Operator telekomunikasi plat merah, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui anak usahanya di bidang infrastruktur jaringan telekomunikasi PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) berpeluang melakukan konsolidasi aset fiber optik yang dimiliki oleh seluruh BUMN lain.
Kabar itu disampaikan langsung oleh Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Dian Siswarini pekan lalu kepada media, di Jakarta. Menurut dia, hal tersebut merupakan arahan Danantara.
Konsolidasi aset fiber optik milik seluruh BUMN lain akan menjadi salah satu fokus utama InfraNexia. Rencana sebelumnya, seperti pencarian mitra atau investor baik dari dalam maupun dari luar negeri, akan ditangguhkan ke tahun berikutnya.
Niat Telkom Indonesia melakukan spin-off bisnis fiber optik ke Infranexia, sebagai entitas anak, diharapkan bisa mendongkrak pendapatan Telkom dari jasa layanan fiber optik untuk pihak ketiga.
Tidak disebutkan secara detil siapa BUMN lain yang kini memiliki aset fiber optik dan bakal ikut konsolidasi ke InfraNexia. Hal yang pasti, sejumlah BUMN sudah memiliki bisnis infrastruktur telekomunikasi selama ini.
Misalnya, PT PLN (Persero) melalui entitas anak PT PLN Icon Plus. Ada pula PT Perusahaan Gas Negara Tbk melalui entitas anak PGN Com dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk melalui anak usahanya Jasa Marga Related Business.
Sampai saat ini, Telkom belum merinci kapan langkah konsolidasi itu dilakukan, seperti apa bentuknya, dan detail target dari konsolidasi tersebut.
Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel), Jerry Mangasas Swandy, Selasa (17/3/2026), di Jakarta, berpendapat, rencana konsolidasi aset fiber optik para BUMN lain ke Telkom InfraNexia belum bisa dibaca secara sederhana. Secara bisnis, rencana konsolidasi semacam ini dinilai masuk akal, terutama jika beberapa BUMN terbukti memiliki infrastruktur fiber optik yang tumpang tindih.
Dari sisi komersial, penggabungan aset fiber optik dapat mengurangi duplikasi investasi. Dari sisi infrastruktur, rencana ini juga sejalan dengan dorongan efisiensi anggaran dari pemerintah, sekaligus memaksimalkan utilisasi jaringan yang sudah ada.
Meski begitu, Apjatel masih menunggu kejelasan bentuk aksi korporasi yang akan ditempuh InfraNexia untuk mengkonsolidasikan seluruh aset fiber optik BUMN lain. Salah satu hal yang menjadi perhatian Apjatel jika rencana itu dijalankan adalah skema pemanfaatan jaringan fiber optik di wilayah yang saat ini sudah dilalui lebih dari satu infrastruktur milik BUMN.
”Pertanyaannya, apakah jaringan tersebut nantinya akan dijual, disewakan ke swasta, atau dialihkan ke fungsi lain yang lebih produktif misalnya ke pemerintah daerah?” kata Jerry.
Dalam konteks industri telekomunikasi, dia menyampaikan InfraNexia juga sudah bergabung dengan Apjatel sejak Januari 2026. Berdasarkan laporan Kementerian Komunikasi dan Digital, panjang kabel telekomunikasi darat di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai sekitar 1 juta kilometer.
Dari jumlah itu, sekitar 60 persen disebut-sebut berasal dari milik Telkom Grup. Namun, dominasi panjang jaringan tersebut belum tentu otomatis berbanding lurus dengan penguasaan pasar.
Meski memiliki jaringan yang luas, penetrasi pasarnya disebut masih sekitar 30 persen untuk segmen ritel maupun korporasi. Artinya, tambahan aset fiber optik dari BUMN lain belum tentu langsung mengubah struktur persaingan secara signifikan.
Berdasarkan laporan Kementerian Komunikasi dan Digital, panjang kabel telekomunikasi darat di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai sekitar 1 juta kilometer.
Dampak konsolidasi tetap berpotensi mengubah peta persaingan, tetapi tidak serta-merta menutup ruang kompetisi bagi pemain lain. Hal lebih penting dari pandangan Apjatel adalah apakah hasil konsolidasi ini nantinya diarahkan menjadi model open access atau shared infrastructure sehingga jaringan dapat dimanfaatkan lebih luas oleh operator lain dan sektor swasta, sehingga pada akhirnya akses internet konsumen semakin mudah.
Selain untuk kepentingan komersial, infrastruktur hasil konsolidasi juga dinilai bisa diarahkan untuk mendukung kebutuhan layanan publik, seperti konektivitas kota cerdas.
Sementara itu, Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Ditha Wiradiputra, berpendapat, konsolidasi bisnis fiber optik yang dimiliki seluruh BUMN berpotensi mengurangi persaingan bisnis fiber optik di pasar.
Apalagi, ada kabar Telkom InfraNexia yang bertugas mengkonsolidasikan semuanya. Telkom InfraNexia sejauh ini dikabarkan memiliki kabel telekomunikasi lebih panjang dibanding pemain sejenis lainnya di Indonesia.
Berdasarkan data TeleGeography (2024/2025), Telkom Group mengoperasikan lebih dari 250.140 km kabel laut di seluruh dunia. Jaringan utama, seperti Indonesia Global Gateway (IGG), memiliki panjang sekitar 5.300 km untuk rute domestik. Mengutip laman PLN Icon Plus, perusahaan ini memiliki lebih dari 400.000 km kabel fiber optik.
Sementara laman PGNCom belum menyediakan detil informasi kabel fiber optik yang dimiliki. Di laman itu hanya tertulis PGNCom adalah perusahaan penyedia layanan teknologi informasi komunikasi berlokasi di Jakarta, Indonesia, yang menyediakan jaringan tulang punggung serat optik dengan jaringan yang beroperasi dari Jakarta hingga Singapura.
Adapun terkait panjang kabel optik yang dikelola Jasamarga Related Business, laman perusahaan juga tidak menyebut detilnya. Hanya dalam rilis terakhir pada 25 Juni 2021, perusahaan menyebut pengembangan jaringan tulang punggung fiber optik Jasamarga Related Business berpotensi dilakukan di sepanjang Jalan Tol Trans Jawa.
”Ada kemungkinan, bisnis jaringan infrastruktur kabel telekomunikasi menjadi semakin terkonsentrasi sehingga mengakibatkan berkurangnya pilihan bagi konsumen dan dapat menaikkan harga/tarif layanan,” ucap dia.
Rencana konsolidasi, Ditha menambahkan, juga berpotensi membuat perusahaan yang menjalankan bisnis infrastruktur telekomunikasi (fiber optik) swasta bersaing langsung dengan BUMN. Untuk itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) perlu memastikan, tidak ada praktik monopoli yang melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Mengutip laporan Bank Dunia bertajuk ”Indonesia Economic Prospects: Fondasi Digital untuk Pertumbuhan (Desember 2025)”, hanya sekitar seperlima rumah tangga yang memiliki koneksi jaringan tetap pita lebar telekomunikasi (fixed broadband).
Cakupan jaringan ini masih terkonsentrasi di daerah perkotaan akibat tingginya biaya pembangunan, kompleksitas perizinan, dan keterbatasan infrastruktur pasif bersama di wilayah non-komersial.
Laporan yang sama menyebutkan, pangsa pasar Telkom Grup di bidang fixed broadband mencapai dua pertiga. Penyedia layanan internet (ISP) yang lebih kecil menghadapi tantangan dalam mengakses kapasitas jaringan tulang punggung telekomunikasi. Tantangan lain adalah menyangkut persaingan serta membuat harga tetap terjangkau dengan tetap menjaga kualitas layanan.
Langkah Telkom untuk memisahkan aset serat optik ke dalam entitas wholesale (kehadiran InfraNexia) membuka peluang untuk mewujudkan jaringan tulang punggung telekomunikasi nasional yang lebih terbuka dan meningkatkan persaingan di industri.





