Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan tetap solid pada Februari 2026, meski sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Pertumbuhan kredit tercatat sebesar 9,37% secara tahunan (year on year/yoy), turun tipis dari 9,96% yoy pada Januari 2026.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026, Selasa (17/3/2026), mengatakan pertumbuhan kredit tersebut tetap didukung oleh penyaluran pembiayaan ke berbagai sektor produktif.
“Perkembangan kredit didorong oleh kinerja kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi yang masing-masing tumbuh 20,7%, 3,88%, dan 6,3% secara tahunan,” ujar Perry.
Di sisi lain, transmisi pelonggaran kebijakan moneter terus berlanjut, meskipun belum sepenuhnya optimal ke suku bunga kredit. Penurunan BI Rate sebesar 125 basis poin sepanjang 2025 telah mendorong penurunan suku bunga pasar uang dan deposito, tetapi penurunan suku bunga kredit masih terbatas.
Tercatat, suku bunga kredit perbankan pada Februari 2026 berada di level 8,8%, turun 40 basis poin dibandingkan Januari 2025 sebesar 9,20%. Sementara suku bunga deposito 1 bulan turun menjadi 4,17% dari sebelumnya 4,81%.
“Ke depan, penurunan suku bunga dana dan kredit perlu terus didorong agar pertumbuhan kredit dapat lebih tinggi dan menopang pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.
Baca Juga
- Jurus Baru BI Perkuat Rupiah: Aturan Beli Valas dan Devisa Diperketat Mulai April 2026
- Breaking! BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan 4,75% di RDG Maret 2026
- OJK Prediksi Bisa Tumbuh 7%-9%, Begini Target Kredit UMKM 2026 dari Bankir
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 akan berada di kisaran 8% hingga 12%, ditopang oleh sisi permintaan dan penawaran yang masih kuat. Dari sisi permintaan, potensi ekspansi kredit masih besar, tercermin dari undisbursed loan yang mencapai Rp2.536,4 triliun atau 22,86% dari total plafon kredit.
Sementara dari sisi penawaran, kapasitas perbankan tetap memadai dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 27,4% dan pertumbuhan DPK yang mencapai 13,18% pada Februari 2026.
Meski demikian, Bank Indonesia mencatat pengetatan masih terjadi pada segmen kredit konsumsi dan UMKM, seiring tingginya risiko pada kedua sektor tersebut.
Di tengah dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik, ketahanan perbankan nasional dinilai tetap kuat. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi sebesar 25,87% serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga rendah di level 2,14% secara bruto dan 0,82% secara neto.





