”Peziarah harap lapor”, demikian pengumuman itu tertulis. Dengan teks putih berlatar hijau tua, sebuah papan tampak kontras dengan warna masjid yang didominasi bahan kayu. Tepat di sampingnya, peziarah berlalu lalang, meletakkan alas kaki, lalu berjalan menuju kompleks permakaman di belakang bangunan.
Masjid itu bernama Astana Sultan Hadlirin. Letaknya yang berada di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, menjadikannya lebih akrab disebut Masjid Mantingan. Selain peziarah, para jemaah pun berdatangan, Selasa (3/3/2026) petang. Di serambi, mereka duduk melingkar, menyimak ceramah hingga azan maghrib berkumandang.
Kawasan Masjid Mantingan menyimpan lapisan makna yang jauh melampaui fungsi ibadah. Bagi peziarah, tempat itu diyakini sebagai pintu awal perjalanan spiritual. Banyak orang sengaja datang ke Mantingan sebelum melanjutkan ziarah ke berbagai situs lain. Hal itu menjadikannya bagian penting dalam tradisi yang terus hidup hingga kini.
Di balik tradisi yang melekat kuat, tersimpan kisah masa lalu yang sentimental. Pendirian masjid yang dimulai pada 1559 ini tak lepas dari sosok Ratu Kalinyamat, putri Sultan Trenggono. Bangunan yang dikerjakan dalam kurun waktu sekitar dua dekade itu merupakan bentuk penghormatan kepada suaminya, Sultan Hadlirin, yang wafat akibat konflik berdarah dengan Arya Penangsang.
Selain menjadi simbol kesetiaan dan pengorbanan, kawasan Masjid Mantingan juga memiliki fungsi strategis pada zamannya. Letak dan peran sentral sang ratu menjadikan area di sekitar masjid sebagai tempat menjalin hubungan dengan pihak luar, termasuk menerima tamu penting di bangunan yang kini sudah tak bersisa.
Warisan terbesar lainnya tampak pada arsitektur. Menurut sejarawan Jepara, Thabroni, pembangunan Masjid Mantingan melibatkan seniman asal China, Tjie Wie Gwan, yang kemudian memeluk Islam dan dikenal sebagai Ki Badar Duwung. Ia menghadirkan detail ukiran batu padas putih yang dipadukan dengan ornamen keramik dari negeri asalnya.
Seorang jemaah membaca Al-Quran sebelum shalat.
Detal ukiran yang menghiasi Masjid Mantingan.
Umat Islam menunaikan shalat tarawih.
Arsitektur bagian luar Masjid Mantingan.
Seorang jemaah berjalan memasuki Masjid Mantingan.
Sentuhan budaya China berpadu harmonis dengan unsur lokal serta peninggalan Hindu-Buddha terlihat dari bentuk gapura hingga pagar makam yang menyerupai candi. Perpaduan budaya juga tecermin dalam penyesuaian seni ukir. Larangan penggambaran makhluk hidup dalam ajaran Islam direspons dengan mengubah motif menjadi ragam flora.
Dari bengkel seni Ki Badar Duwung di sekitar masjid lahir standar ukiran khas Jepara yang kemudian mengangkat daerah tersebut sebagai sentra kerajinan kelas dunia. Namun, keberlanjutan tradisi itu kini menghadapi ancaman, terutama karena minimnya dukungan pasar dan perhatian serius untuk menjaga eksistensinya.
Di tengah nilai sejarah dan artistik yang tinggi, kondisi fisik bangunan justru semakin rentan. Material batu yang digunakan mulai mengalami pelapukan, sementara pengelola tidak memiliki dukungan dana memadai untuk perawatan rutin. ”Masjid ini hidup mandiri. Perawatan hingga (gaji) pegawai, ya mengandalkan jariah atau sedekah peziarah itu,” ungkap pengurus Masjid dan Makam Mantingan, Achmad Slamet.
Padahal, Masjid Mantingan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan simbol akulturasi budaya serta cerminan toleransi yang tak lekang oleh waktu. Jika perawatan masjid terus bergantung pada sumber terbatas, bukan tidak mungkin nilai sejarah yang dikandungnya perlahan akan hilang tanpa diwariskan utuh ke generasi berikutnya.





