Psikolog UI: Melarang Anak Main Gadget Tanpa Alternatif Bisa Ganggu Emosi

kompas.com
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com — Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) Rose Mini Agoes Salim mengingatkan orangtua tidak cukup hanya melarang anak mengakses gadget dan bermain media sosial.

Larangan tersebut, menurut dia, harus diimbangi dengan alternatif kegiatan yang menarik agar anak tidak terus terdorong kembali menggunakan perangkat digital.

Rose mengatakan, ayah dan ibu perlu memikirkan kegiatan lain yang dapat membuat anak tetap aktif dan terstimulasi tanpa bergantung pada gadget.

Baca juga: Waktu Ideal Anak Main Gadget 1–2 Jam, Terlalu Lama Berisiko Ganggu Kesehatan Mental

"Jika kita melarang sebagai orang tua, kita harus punya alternatif kegiatan apa yang bisa dilakukan anak. Tidak hanya sekadar melarang, tapi kita tidak memberikan alternatif kegiatan yang menarik untuk anak," ujar Rose saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (16/3/2026).

"Kalau tidak, anak pasti akan merasa tidak nyaman karena tidak tahu apa yang mesti dia lakukan, sementara dia sudah terbiasa dengan penggunaan games-games pada gadget," jelasnya.

Rose juga menekankan, larangan tanpa penjelasan maupun tanpa alternatif aktivitas dapat berdampak pada kondisi psikologis anak.

Ia menilai, jika orangtua terus menerapkan larangan tanpa pendekatan yang tepat, hal itu berpotensi memengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak.

Selain itu, anak juga berpotensi merasa tidak betah berada di rumah karena merasa tidak memiliki aktivitas yang menyenangkan.

"Ada baiknya kalau misalnya, terutama mau menghadapi libur Lebaran ini, orang tua dan anak bikin proyek bersama sehingga anak tidak bosan," ungkap Rose.

Ia mencontohkan kegiatan sederhana yang dapat dilakukan orangtua bersama anak, misalnya ketika mengenalkan anak pada binatang melata.

Baca juga: Anak Terlalu Lama Main Gadget Bisa Kehilangan Kemampuan Sosial

Orangtua dapat mengajak anak bermain di luar rumah untuk mencari hewan melata yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal.

"Setelah itu orang tua ikut mencari informasi tentang binatang melata, dibikinkan rumah-rumahan untuk binatang melata itu berdasarkan informasi yang orang tua miliki," tutur Rose.

"Ini jadi sesuatu yang menantang dan anak pasti tidak akan boring pada waktu dia melakukan hal ini," tambahnya.

Pengalaman anak dan orangtua

Salah satu siswa sekolah dasar (SD), Bisma (8), menceritakan pengalamannya yang sudah enam bulan terakhir tidak bermain gadget secara rutin setiap hari.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ibunda Bisma, Fitri (32), melarang anaknya mengakses gadget secara berlebihan. Karena itu, Bisma hanya diperbolehkan menggunakan gadget pada akhir pekan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bapanas Gencarkan Intervensi Pangan Jelang Lebaran 2026
• 21 jam laludisway.id
thumb
Mantan Manajer Tegaskan Kegagalan di Seri Pembuka MotoGP 2026 Bukan Masalah Serius bagi Ducati
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
ASDP Perkuat Keamanan Pelabuhan Bakauheni, Ratusan CCTV Dipasang
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Polisi Soal Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus: Pelaku Punya Ketenangan
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Ekonom Desak Indonesia Ikuti Malaysia Cabut Perjanjian Dagang dengan AS, Ini Dampaknya!
• 1 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.