Indeks Saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup menguat pada Senin (16/3) seiring meredanya harga minyak global.
Sementara investor bersiap menghadapi rangkaian rapat bank sentral utama dunia yang diperkirakan mempertahankan suku bunga.
Mengutip Reuters pada Selasa (17/3), penguatan saham teknologi turut mendorong indeks utama AS. Dow Jones Industrial Average naik 342 poin atau 0,73 persen ke level 46.900,47. Indeks S&P 500 menguat 0,98 persen menjadi 6.697,43, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 1,24 persen ke posisi 22.378,46.
Saham Meta Platforms naik 1,8 persen setelah muncul laporan rencana pemangkasan lebih dari 20 persen tenaga kerja. Sementara Nvidia menguat 2,8 persen ketika CEO Jensen Huang memaparkan strategi perangkat keras dan perangkat lunak terbaru dalam konferensi pengembang tahunan perusahaan.
"Senang melihat sektor teknologi kembali pulih, ini benar-benar hanya spekulasi tentang de-eskalasi Iran dan kekhawatiran terkait energi," kata Senior portfolio strategist di Ingalls & Snyder, New York, Tim Ghriskey.
"Tentu saja dalam jangka pendek, yang menjadi perhatian adalah masalah energi, dan dalam jangka panjang, pertanyaannya adalah apa yang akan Anda lakukan terhadap negara yang sangat besar ini, yang merupakan bagian penting dari Timur Tengah?" sambungnya.
Sentimen pasar juga terbantu oleh turunnya harga minyak setelah sebelumnya melonjak tajam akibat konflik di Timur Tengah. Harga minyak mentah AS turun 5,13 persen menjadi USD 93,65 per barel, sementara Brent melemah 2,77 persen menjadi USD 100,28 per barel. Meski demikian, kedua acuan minyak tersebut masih mencatat kenaikan hampir 40 persen sepanjang Maret 2026.
Lonjakan harga minyak sebelumnya memicu kekhawatiran inflasi global dan mendorong pasar menyesuaikan ekspektasi kebijakan moneter. Investor kini memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed) sekitar 25 basis poin hingga akhir tahun, sementara Bank Sentral Eropa diperkirakan justru menaikkan suku bunga sekitar 40 basis poin.
Perhatian investor pekan ini tertuju pada pertemuan sejumlah bank sentral utama dunia, termasuk AS, Inggris, zona euro, Jepang, Australia, Kanada, Swiss, dan Swedia. Rapat tersebut menjadi yang pertama sejak meningkatnya konflik Iran yang memicu lonjakan harga energi.





