Ramadan selalu menghadirkan satu malam yang paling dinanti umat Islam di seluruh dunia, Lailatul Qadar, malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam inilah Allah menurunkan Al-Qur’an dan melimpahkan rahmat serta ampunan yang sangat besar bagi hamba-Nya.
Namun sejak masa para sahabat, muncul pertanyaan yang terus dibicarakan hingga kini, malam ke berapakah Lailatul Qadar itu? Salah satu pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa Lailatul Qadar sering terjadi pada malam ke-27 Ramadan. Pendapat ini didasarkan pada sejumlah hadis, salah satunya berasal dari sahabat mulia Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu.
Kesaksian Sahabat tentang Malam ke-27Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ubay bin Ka’ab bersumpah bahwa ia mengetahui kapan Lailatul Qadar terjadi.
Baca juga : Apakah Malam Isra Mikraj Lebih Baik daripada Lailatul Qadar
قَالَ أُبَىٌّ وَاللَّهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِنَّهَا لَفِى رَمَضَانَ – يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِى – وَوَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُ أَىُّ لَيْلَةٍ هِىَ. هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَاUbay bin Ka’ab berkata:
“Demi Allah yang tiada ilah selain Dia, sesungguhnya Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadan. Demi Allah, aku mengetahui malam itu. Ia adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menghidupkannya dengan qiyamullail, yaitu malam ke-27. Tanda dari malam itu adalah matahari terbit pada pagi harinya putih tanpa sinar yang menyilaukan.”
(HR. Muslim)
Dalam riwayat lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ubay bin Ka’ab kembali menegaskan keyakinannya:
قَالَ أُبَىٌّ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُهَا وَأَكْثَرُ عِلْمِى هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ“Demi Allah, aku mengetahui malam itu. Menurut pengetahuanku, ia adalah malam yang Rasulullah memerintahkan kami untuk menghidupkannya dengan ibadah, yaitu malam ke-27.”
(HR. Muslim)
Baca juga : Raihlah Ketenangan Jiwa di Malam Lailatul Qadar
Hadis ini menjadi salah satu dalil yang sering dijadikan rujukan oleh para ulama yang berpendapat bahwa malam ke-27 adalah waktu yang paling kuat kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar.
Petunjuk Nabi untuk Mencari Lailatul QadarMeski demikian, Nabi Muhammad SAW tidak pernah memastikan satu tanggal tertentu secara mutlak. Justru beliau menganjurkan umatnya untuk mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ“Barangsiapa ingin mencarinya (Lailatul Qadar), hendaklah ia mencarinya pada malam ke-27.”
(HR. Ahmad)
Namun dalam riwayat-riwayat lain, Nabi juga menyebut malam-malam ganjil seperti 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan. Karena itulah para ulama menjelaskan bahwa Lailatul Qadar bisa berpindah-pindah, meskipun malam ke-27 sering kali dianggap sebagai kemungkinan yang paling kuat.
Hikmah Dirahasiakannya Lailatul QadarPara ulama menjelaskan bahwa dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar memiliki hikmah besar. Jika tanggalnya diketahui secara pasti, mungkin banyak orang hanya akan beribadah pada satu malam saja.
Sebaliknya, dengan ketidakpastian tersebut, umat Islam terdorong untuk menghidupkan seluruh malam di sepuluh hari terakhir Ramadan dengan berbagai ibadah seperti:
- Salat malam (qiyamullail)
- Membaca Al-Qur’an
- Berzikir dan berdoa
- Memperbanyak istighfar
- Bersedekah
Dengan demikian, semangat ibadah tidak hanya terfokus pada satu malam, tetapi menyebar sepanjang akhir Ramadan.
Malam yang Lebih Baik dari Seribu BulanKeutamaan Lailatul Qadar sangat besar. Dalam Surah Al-Qadr disebutkan bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan, atau setara dengan lebih dari 83 tahun ibadah.
Artinya, satu malam ibadah pada Lailatul Qadar bisa bernilai lebih dari seumur hidup manusia dalam beribadah.
Karena itu, para ulama selalu mengingatkan agar kaum Muslimin tidak melewatkan malam-malam terakhir Ramadan. Jika seseorang bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir, besar kemungkinan ia akan bertemu dengan Lailatul Qadar, entah pada malam ke-27 atau malam ganjil lainnya.
Menghidupkan Malam HarapanMalam ke-27 memang memiliki banyak riwayat yang menguatkan kedudukannya sebagai salah satu kandidat terkuat Lailatul Qadar. Namun pada akhirnya, pesan utama dari hadis-hadis Nabi adalah kesungguhan dalam mencari dan menghidupkan malam-malam Ramadan.
Bagi seorang mukmin, Lailatul Qadar bukan sekadar tanggal dalam kalender. Ia adalah malam harapan, malam ketika doa-doa dipanjatkan dengan penuh kerendahan, dan hati kembali kepada Allah dengan harap akan ampunan-Nya.
Sebab siapa yang beribadah pada malam itu dengan iman dan penuh pengharapan, sebagaimana sabda Nabi SAW, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (Z-10)





