JAKARTA, KOMPAS.com - Tiket bus menuju kampung halaman di Jepara, Jawa Tengah, yang sudah berada di genggaman Jumadi (52) ternyata tak jadi digunakannya untuk mudik Lebaran.
Rencana merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah bersama keluarga besar pun harus diurungkan Jumadi setelah rumah miliknya di permukiman padat penduduk di Tanah Sereal, Tambora, Jakarta Barat, habis dilalap api pada Jumat (13/3/2026).
“Saya awalnya ada rencana mau mudik, udah beli tiket bus buat keluarga, anak, istri. Tapi jadinya akhirnya anak sama istri aja yang pulang, (saya) di sini ngeberesin rumah,” ucap Jumadi saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (16/3/2026).
Baca juga: Temuan Helm dan Wadah Jadi Petunjuk Awal Jejak Penyiram Air Keras Andrie Yunus
Padahal, ia telah menghabiskan sekitar Rp 1.200.000 untuk membeli tiket mudik bagi keluarganya.
Namun, ia mengikhlaskan tiket mudiknya dan memilih bertahan di Jakarta demi mengurus rumahnya yang kini ambruk dan hangus terbakar.
Jumadi memilih tetap berada di posko pengungsian sambil membersihkan sisa-sisa puing rumahnya yang kini sudah tak lagi berbentuk.
“Insyaallah ikhlas enggak pulang. Kita juga kalau pulang bingung ya, mau ngurusin rumah ini soalnya, mau gimana lagi, namanya musibah, sedih sih tapi,” kata Jumadi.
Adapun, kebakaran hebat yang melanda tempat tinggalnya pada Jumat dini hari lalu telah menghanguskan rumah yang telah ia tempati selama puluhan tahun sejak kecil.
"Kalau saya mah habis, habis total. (Rumah) Hangus enggak tersisa apa-apa lagi," ungkap Jumadi.
Kesedihan Jumadi semakin bertambah saat melihat kondisi ayahnya yang telah berusia sekitar 70 tahun dan mengalami lumpuh total.
Baca juga: Tabrak Beton Pembatas Jalan, Pemotor Tewas Tertabrak Truk di Cilincing
"Kasihan anak-anak kecil ya kita, terus orang-orang tua jompo juga kan kasihan. Kayak orangtua saya kan bapak saya sudah enggak bisa ngapa-ngapain dia, lumpuh total, akhirnya ngungsi di rumah saudara," kata Jumadi.
Bertahan di Pengungsian dengan Matras SeadanyaSudah tiga hari berlalu sejak insiden kebakaran terjadi, warga terdampak sempat luntang-lantung mencari tempat bernaung.
Kini mereka bertahan sementara di tenda pengungsian yang telah disediakan.
"Dari hari Jumat ya (mengungsi). Di pengungsian ini pertama kan saya di masjid, mushola, terus sudah dua hari pindah ke sini," ucapnya.
Ia mengungkapkan banyak ibu-ibu, lansia, dan anak-anak yang kesulitan tidur karena hanya beralaskan matras tipis di tenda pengungsian tersebut.





