Cuaca, Balon Udara Liar dan Burung Ganggu Penerbangan Jelang Lebaran

cnbcindonesia.com
15 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi Airnav. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - AirNav Indonesia mengingatkan adanya sejumlah potensi gangguan keselamatan penerbangan selama periode Lebaran, mulai dari cuaca ekstrem hingga balon udara liar yang kerap dilepas masyarakat.

Direktur Operasional AirNav Indonesia Setio Anggoro mengatakan faktor cuaca masih menjadi perhatian utama dalam operasional penerbangan saat ini.


"Kewaspadaan operasional selama Angleb yang pertama adalah cuaca ekstrem. Curah hujan masih cukup tinggi di beberapa wilayah Indonesia," ujar Setio dalam konferensi pers, Senin (16/3/2026).

Baca: Tekan Harga Tiket Pesawat, AirNav Buka Jam Operasional Lebih Panjang

Intensitas hujan tinggi terutama masih terjadi di beberapa wilayah strategis penerbangan nasional.

"Khususnya di Pulau Jawa dan Pulau Bali serta Sulawesi, sementara di Sumatera sudah mulai berkurang," jelasnya.

Selain cuaca, aktivitas gunung berapi juga tetap menjadi salah satu variabel yang diawasi oleh AirNav. Meski demikian, hingga saat ini belum ada aktivitas vulkanik yang mengganggu operasional penerbangan secara langsung.

"Kemudian abu vulkanik. Ada beberapa gunung berapi aktif namun saat ini tidak mengganggu penerbangan seperti Lewotobi Laki-laki yang ada di NTT," kata Setio.

Gangguan lain yang kerap muncul setiap tahun adalah balon udara liar yang dilepaskan masyarakat setelah Lebaran. Tradisi tersebut sering ditemukan di beberapa daerah di Pulau Jawa dan berpotensi membahayakan penerbangan.

"Balon udara liar ini salah satu potensi gangguan penerbangan. Biasanya muncul setelah Lebaran dari hari Lebaran sampai H+7 dan seterusnya," ujarnya.

AirNav telah melakukan berbagai sosialisasi kepada masyarakat untuk mengurangi risiko tersebut.

Selain itu, ancaman lain yang tidak kalah penting adalah risiko tabrakan pesawat dengan burung atau bird strike. Menurut Setio, kondisi geografis Indonesia membuat potensi tersebut cukup tinggi terutama di sekitar bandara.

"Bird strike juga menjadi salah satu potensi hazard yang cukup tinggi di Indonesia karena banyak empang, sawah di sekitar bandara serta faktor lingkungan lainnya," kata Setio.

Ia berharap berbagai potensi gangguan tersebut dapat diminimalkan melalui koordinasi antara AirNav, pengelola bandara, serta masyarakat.

"Semoga tahun ini gangguan-gangguan tersebut bisa berkurang sehingga operasional penerbangan tetap berjalan aman dan lancar," ujar Setio.


(fys/mij) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Bencana Hantam Amerika, KBRI Beri Peringatan ke WNI

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Tegaskan Indonesia Nonblok, Tak Akan Gabung Aliansi Militer
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
51 Ribu Penumpang Berangkat dari Daop 1, Stasiun Gambir Paling Padat
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Kondisi Terbaru Aktivis KontraS Andie Yunus usai Disiram Air Keras, Ini Luka yang Paling Serius
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
Khong Guan Ternyata Bukan dari Indonesia, Ini Sosok Pemiliknya
• 22 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pakar Hukum Minta Negara Secepatnya Ungkap Kasus Penyerangan Air Keras ke Andrie Yunus
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.