Bisnis.com, BANDA ACEH — Harga minyak dunia terus meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berupaya mengajak negara-negara besar membentuk koalisi internasional, guna membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak global.
Lonjakan harga minyak terjadi ketika aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu akibat konflik Iran dengan AS–Israel. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran pasar energi global, jalur tersebut biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
“Harga minyak terus naik karena pasar tidak melihat tanda-tanda berakhirnya penghentian lalu lintas di Selat Hormuz oleh Iran,” tulis Al Jazeera, Senin (16/3/2026).
Harga minyak mentah Brent sebagai acuan global bahkan sempat melonjak lebih dari 3% hingga menembus US$106 per barel, sebelum sedikit melemah pada awal perdagangan berikutnya. Pada pukul 04.30 GMT, harga Brent tercatat berada di sekitar US$104,63 per barel, naik hampir 1,5%.
Jalur perairan strategis ini biasanya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak global, sehingga gangguan di wilayah tersebut berdampak langsung terhadap pasar energi dunia.
Al Jazeera melaporkan bahwa negara-negara, seperti China, Jepang, Prancis, dan Inggris, belum menyatakan komitmen untuk mengerahkan armada laut guna mengamankan Selat Hormuz.
Baca Juga
- Jepang dan Korsel "Tak Bergerak" Meski Trump Minta Bantuan di Selat Hormuz
- Trump Dicuekin Sekutu karena Minta Kapal Perang Dikirim ke Selat Hormuz
- Selat Hormuz Lumpuh, Trump Desak Negara Konsumen Minyak Turun Tangan
Trump bahkan memperingatkan bahwa NATO akan menghadapi masa depan yang “sangat buruk” apabila proposal tersebut tidak mendapatkan tanggapan positif. Pernyataan ini menegaskan pentingnya Selat Hormuz bagi stabilitas energi AS.
Sementara itu, The Economic Times melaporkan bahwa Trump telah meminta sekitar tujuh negara untuk mengirim kapal perang guna menjaga keamanan Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa negara-negara yang sangat bergantung pada minyak dari Timur Tengah, seharusnya ikut bertanggung jawab menjaga keamanan jalur tersebut.
“Saya menuntut negara-negara itu untuk datang dan melindungi wilayah mereka sendiri, karena itu adalah wilayah mereka sendiri,” ujar Trump.
Trump juga menilai AS tidak terlalu bergantung pada minyak yang melewati Selat Hormuz dibandingkan dengan negara lain. Dia mencontohkan China yang menerima sekitar 90% pasokan minyaknya melalui jalur tersebut, sedangkan AS hanya menerima sebagian kecil.
“Kami akan membantu dan bekerja bersama mereka, tetapi akan lebih baik jika negara lain juga ikut menjaga jalur tersebut,” kata Trump di pesawat Air Force One.
Al Jazeera melaporkan bahwa sejak konflik dimulai, harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 40%, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar dan meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.
Data dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menunjukkan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun drastis. Jika sebelumnya rata-rata 138 kapal melintas setiap hari, kini hanya sekitar lima kapal per hari yang mampu melewati jalur tersebut sejak perang dimulai.
Selain itu, sedikitnya 16 kapal komersial dilaporkan diserang di kawasan tersebut sejak konflik dimulai pada 28 Februari. Insiden tersebut semakin meningkatkan risiko keamanan bagi aktivitas perdagangan global.
Pejabat pemerintahan Trump menyatakan bahwa pengerahan kapal perang AS ke Selat Hormuz belum akan dilakukan, hingga kemampuan militer Iran dinilai semakin melemah. Pemerintah AS memperkirakan operasi pengamanan Selat Hormuz akan segera dimulai dalam waktu dekat.





