Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku 'bingung' dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan, karena secara fundamental ekonomi Indonesia dirasa sedang membaik.
Purbaya mengaku enggan berkomentar banyak terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang kini kian mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Bendahara negara itu justru 'melempar bola' dan meminta publik menanyakan langsung persoalan tersebut kepada Bank Indonesia (BI).
"Saya enggak tahu itu kenapa melemah. Anda harus tanyakan ke bank sentral kalau [soal] rupiah. Anda tanya yang betul ke bank sentral apa yang terjadi. Kenapa Anda tanya ke saya?" ujar Purbaya di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (16/3/2026).
Sebagai catatan, melansir data Bloomberg pada perdagangan Senin (16/3/2026) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah 0,23% ke Rp16.997 per dolar AS. Adapun, indeks dolar AS melemah 0,11% ke 100,25.
Purbaya pun kembali menggawabawahi bahwa otoritas moneter memiliki mandat yang jelas terkait pergerakan mata uang. Oleh karena itu, dirinya merasa perlu berhati-hati agar tidak mengeluarkan pernyataan yang berpotensi melangkahi wewenang atau mengganggu kebijakan BI.
"Karena tanggung jawab bank sentral hanya satu, menjaga stabilitas nilai tukar. Kalau saya ngomong kan nanti bahaya. Nanti kebijakan bank sentral. Saya enggak ngerti itu. Jadi harus tanya ke Bank Sentral," tegasnya.
Ketika disinggung mengenai apakah tren depresiasi rupiah belakangan ini merupakan cerminan dari pelemahan fundamental ekonomi domestik, Purbaya menepis asumsi tersebut.
Menurutnya, mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini justru sedang bergerak solid sehingga secara teori pergerakan mata uang seharusnya berbanding lurus dengan kondisi fundamental riil.
"Kalau ekonominya lagi lari, lagi lari kencang, makin kencang, harusnya fundamentalnya baik. Kalau normal, rupiah harusnya menguat. Jadi Anda tanya ke bank sentral kenapa melemah," tutup Purbaya.




