Trump Minta Bantuan Sekutu Amankan Selat Hormuz, Jepang hingga Australia Enggan Kirim Kapal

suara.com
2 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Presiden AS Donald Trump meminta tujuh negara sekutu mendukung pengamanan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
  • Selat Hormuz, yang krusial bagi energi global, terancam akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran.
  • Jepang dan Australia menolak mengirim kapal angkatan laut, sementara Korea Selatan masih berkoordinasi dengan Washington.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerukan kepada negara-negara sekutu untuk membantu mengamankan jalur pelayaran strategis Strait of Hormuz.

Permintaan itu disampaikan ketika konflik antara AS dan Israel melawan Iran memasuki pekan ketiga.

Donald Trump mengatakan pemerintahannya telah menghubungi tujuh negara untuk meminta dukungan keamanan di selat tersebut. Namun, ia tidak menyebutkan secara spesifik negara mana saja yang sudah dihubungi.

Dalam unggahan sebelumnya di media sosial, Trump menyatakan harapannya agar beberapa negara besar seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan United Kingdom dapat ikut ambil bagian dalam upaya pengamanan tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut sempit yang berada di antara Iran dan Oman.

Kawasan ini sangat penting bagi perdagangan energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati rute tersebut.

Ketegangan yang meningkat membuat Iran secara efektif menutup jalur tersebut, sehingga memicu gangguan besar pada pasokan energi dunia.

Sejumlah negara yang disebut dalam wacana pengamanan ini mulai memberikan tanggapan.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi mengatakan negaranya belum memiliki rencana untuk mengirim kapal angkatan laut ke Timur Tengah.

Baca Juga: Batal Ambil Suaka di Australia, Keluarga Kapten Timnas Putri Iran Diduga Diintimidasi

“Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus meneliti apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum,” kata Takaichi kepada parlemen pada 16 Maret dikutip dari Strait Times.

Sementara itu, pemerintah Australia juga menyampaikan sikap serupa. Menteri kabinet yang mewakili pemerintahan Perdana Menteri Anthony Albanese, yakni Catherine King menegaskan negaranya tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz.

“Kami tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz. Kami tahu betapa pentingnya hal itu, tetapi itu bukan sesuatu yang diminta dari kami atau yang kami bantu,” kata King dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah ABC.

Dari Korea Selatan, kantor kepresidenan menyatakan masih akan berkoordinasi dengan Washington sebelum mengambil keputusan.

“Kami akan berkomunikasi erat dengan AS mengenai masalah ini dan akan mengambil keputusan setelah peninjauan yang cermat,” demikian pernyataan kantor kepresidenan pada 15 Maret.

Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dilaporkan telah membahas situasi di Selat Hormuz dengan Trump.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DPR Minta Pemerintah Desa Segera Perbarui Data Penerima Bantuan Sosial
• 16 jam laluokezone.com
thumb
Rekor! Zakat Istana 2026 Tembus Rp4,3 Miliar, Tertinggi Sepanjang Sejarah
• 3 jam lalumatamata.com
thumb
Libur Nyepi 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Resminya di Sini
• 6 jam laludisway.id
thumb
Pramono Anung Minta Program Bedah Rumah DKI Jakarta Bisa Jangkau Warga Semua Agama
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
Mudik Lebaran, Catat ini Jalur Alternatif Bebas Macet Menuju Jawa Timur
• 10 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.