Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya meminta para mitra MBG untuk mengutamakan program MBG bagi kelompok rentan 3B karena hal itu menyangkut kepada 1.000 hari kehidupan pertama.
“Jadi kita bisa lihat bahkan dari dalam perut, dalam bentuk janin ini sudah diperhatikan oleh pemerintah. Jadi pola pikirnya harus disamakan dahulu bahwa yang harus diberi makanan bergizi gratis ini adalah 3B. Ini yang harus diutamakan bukan datang dulu ke sekolah mendata penerima manfaat lalu melakukan kerjasama," jelasnya dalam siaran persnya, dikutip Senin, 16 Maret 2026.
Menurut Sony, selama ini ada kekeliruan dalam memahami program MBG yang dimaknai sebagai makan siang di sekolah saja. Padahal kelompok 3B juga menjadi perhatian pemerintah agar kualitas gizinya terjamin di seribu hari pertama kehidupan.
Dengan demikian, kelompok 3B menjadi fokus utama pemerintah dalam menerima manfaat program MBG, selanjutnya peserta didik di sekolah. Pemahaman itu, lanjut Sony, menjadi bagian dari skema besar pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia di tahun 2045 mendatang.
“Mengapa demikian ini bukan sekedar memberikan makan tapi bagaimana merencanakan Indonesia ke depan, 2045 kita siapkan dari sekarang," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menyoroti pentingnya peran Satua Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam mengawal distribusi MBG bagi kelompok 3B. Ia menegaskan, program MBG untuk 3B memiliki tujuan untuk mendukung tumbuh kembang generasi masa depan Indonesia secara berkelanjutan.
"Yang sudah berjalan harus terus kita kawal agar MBG 3B benar-benar sampai kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD sebagai penerima manfaat," ujar Wihaji.
Keberhasilan program ini, menurut Wihaji, sangat bergantung pada pengawasan yang ketat di lapangan. Hal tersebut penting guna memastikan setiap porsi makanan bergizi sampai ke tangan yang membutuhkan.
Wihaji juga kembali mengajak masyarakat Indonesia untuk mengapresiasi program peningkatan kualitas gizi nasional tersebut, karena MBG untuk 3B merupakan satu-satunya yang ada di dunia.
Ia menambahkan, keberhasilan pelaksanaan program MBG untuk 3B memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kolaborasi ini esensial agar program dapat berjalan efektif hingga menyentuh tingkat keluarga di berbagai wilayah.
"Program ini membutuhkan kerja sama antara kementerian di pusat dan pemerintah daerah," pungkas Wihaji.
Baca juga: Hasil Riset UI: MBG Bikin Murid Makin Kompak dan Ringankan Beban Orang Tua
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)





