Bertemu Fendi, Bocah Gunungkidul yang Putus Sekolah demi Rawat Ibu yang Stroke

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ahmad Tri Efendi (10 tahun) tampak ceria hari ini, Senin pagi (16/3). Senyum merekah dari bibirnya, kakinya mengayuh pedal sepeda baru berwarna kuning. Sepeda itu merupakan pemberian pejabat yang telah menjenguknya kemarin.

Kisah Fendi yang rela putus sekolah demi merawat ibunya, Siaminah (43 tahun), yang stroke menarik perhatian banyak pihak.

Fendi dan keluarganya tinggal di Pedukuhan Jeruken, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Keluarga ini tinggal di sebuah rumah sederhana berlantai semen. Dinding rumah tampak belum dicat, sebagian masih batako tanpa diaci, dan langit-langit rumah tanpa plafon.

Jeruken merupakan salah satu pedukuhan yang berada di selatan Gunungkidul. Untuk menuju rumah Fendi harus melewati jalan cor blok dengan kontur naik turun. Lokasinya sekitar 20-an kilometer dari Wonosari, ibu kota Kabupaten Gunungkidul.

Hingga hari ini, berbagai pihak masih datang untuk menjenguk Fendi. Sementara itu, Siaminah saat ini berada di rumah sakit untuk diperiksa kesehatannya.

Fendi terakhir sekolah saat kenaikan kelas 1 ke kelas 2 di salah satu madrasah ibtidaiyah. Ia terpaksa putus sekolah karena kasihan melihat kondisi ibunya yang hanya bisa berbaring di tempat tidur, sementara ayahnya juga sakit karena penglihatan menurun.

“(Terakhir sekolah) pas mau kenaikan kelas dua,” ujar Fendi.

Tiga Tahun Putus Sekolah

Sudah tiga tahun lamanya Fendi putus sekolah. Ia secara bergantian merawat ibunya bersama sang ayah, Slamet (52 tahun), dan kakak keduanya yang masih duduk di bangku SMP, Ayu Ambarwati (14 tahun). Di rumah itu juga ada nenek Fendi.

Sementara kakak pertamanya, Wahyu Adi Saputra (23 tahun), berada di Berbah, Kabupaten Sleman, untuk bekerja di penyulingan minyak. Wahyu pulang sebulan sekali atau kadang tiga bulan sekali.

Selama tiga tahun pula Fendi merawat ibunya setiap hari, mulai dari menyuapi makan hingga memberikan minum.

“Menyuapi. Ngasih minum. Sudah tiga tahun kayaknya (tidak sekolah),” kata Fendi.

Fendi mengaku ingin bisa sekolah lagi. Ia mengenang ketika masih sekolah, setiap pagi selalu berjalan ke sekolah bersama kakaknya.

“Berangkat bareng kakak,” katanya.

Bercita-cita Jadi Polisi

Dalam kesempatan itu, dengan malu-malu Fendi mengutarakan cita-citanya.

“(Cita-cita) polisi,” katanya.

Sementara sang kakak, Ambar, yang saat ini duduk di kelas 1 SMP mengatakan adiknya terpaksa tidak sekolah karena kasihan dengan ibu.

Ambar biasanya membantu mengurus ibu ketika dirinya pulang sekolah.

“Kalau puasa pulang jam 1 (siang) kurang. Kalau biasanya jam 2 (siang). Ibu sakit sudah sekitar empat tahunan,” katanya.

Lanjutnya, kondisi ibu saat ini hanya tiduran di tempat tidur. Penglihatan memburuk dan mengalami kelumpuhan. Komunikasi pun kesulitan. Untuk makan dan minum, biasanya ia berteriak untuk meminta bantuan.

“Ibu tiduran saja. (Gerak) kesulitan. (Ngobrol) nggak bisa. Nanti bengok (berteriak kalau butuh sesuatu),” katanya.

Ambar berharap agar kedua orang tuanya bisa kembali pulih seperti sedia kala. Ia juga berharap adiknya bisa sekolah lagi.

“(Dulu) bareng berangkatnya, jalan kaki,” tuturnya.

Cerita Sang Ayah

Slamet bercerita, istrinya yang terlebih dahulu sakit. Dahulu ia masih bisa mengantar istrinya bolak-balik ke rumah sakit. Entah karena kecapekan atau apa, dirinya juga ikut sakit.

“Dulu nganterin istri saya ke puskesmas, ke RSUD. Jadi saya terkena (sakit) karena kecapekan mungkin,” kata Slamet yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan buruh bangunan.

Slamet mengatakan sekitar lima tahun sudah istrinya sakit. Pada tahun-tahun awal, ia masih bisa mengantar istrinya berobat hingga suatu waktu Slamet merasakan kaki nyeri dan leher kencang sehingga tidak bisa menengok.

“Kepala itu pusing. Mata blabur (buram),” katanya.

Kondisi ini membuat Slamet tak bisa bekerja. Ekonomi keluarga otomatis hanya ditopang oleh anak pertamanya yang bekerja di Berbah.

Dengan keterbatasannya ini, Slamet terus berusaha hadir untuk keluarganya. Selain turut merawat sang istri, ia juga rutin memasak untuk keluarganya setiap hari.

“Kalau dia (Fendi) ingin main saya yang nyuapin. Kalau saya lagi sibuk masak, dia yang ngasih minum, ngasih makan,” katanya.

Slamet berharap ada kesembuhan bagi istrinya dan dirinya. Selain itu, ia berharap anak-anaknya bisa kembali bersekolah demi masa depan mereka.

“Kalau saya itu inginnya berobat dan sembuh karena anak-anak saya masih kecil. Dan anak-anak saya harusnya tetap sekolah,” katanya.

Kata Dukuh Jeruken

Dukuh Jeruken, Winarsih, mengatakan keluarga ini sejak dulu sudah mendapatkan bantuan sosial hingga BPJS. Namun, kondisi ekonomi membuat mereka terbatas untuk transportasi pengobatan.

“BPJS dan sebagainya sudah ditanggung pemerintah, tapi terkendala transportasi. Pak Slamet juga kalau meninggalkan istrinya di rumah untuk berobat terlalu lama tidak tega,” kata Winarsih.

Winarsih mengatakan saat ini Bupati Bantul dan berbagai instansi, mulai dari pendidikan, dinas sosial, hingga kesehatan, sudah hadir di rumah Slamet.

“Alhamdulillah biaya dan fasilitas kesehatan Pak Slamet dan Bu Siaminah ditanggung sepenuhnya,” katanya.

“Untuk Mas Fendi dari Dinas Pendidikan, Kemenag, dan sebagainya juga sudah rawuh (datang) untuk memfasilitasi dan memotivasi Mas Fendi agar sekolah kembali serta membiayai sampai lulus sekolah,” ujarnya.

Winarsih mengatakan dahulu guru hingga teman-teman Fendi telah memotivasi Fendi untuk sekolah. Namun saat itu Fendi merasa kasihan dengan kondisi yang dialami ibunya.

“Guru-gurunya dulu sudah men-support, lingkungan sekitar dan teman-temannya sudah tidak kurang-kurang membujuk Mas Fendi sekolah kembali. Tapi mungkin karena saking sayangnya sama ibunya, untuk meninggalkan ibunya sendiri di rumah tidak tega,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Utang Luar Negeri RI Tembus US$434,7 Miliar, Rasio terhadap PDB Justru Turun
• 3 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Anggota IEA di kawasan Asia-Oseania akan lepas cadangan minyak darurat
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Tenang Bersama Wuling Sambut Mudik Lebaran 2026
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Polling: Tim Enggak Mudik, Apa Rencana Kamu di Hari Lebaran?
• 28 menit lalukumparan.com
thumb
Unggah Video di Medsos, Netanyahu Ejek Rumor soal Kematiannya
• 11 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.