Seekor penyu laut betina dari spesies Kemp’s ridley, yang termasuk salah satu penyu paling langka di dunia, ditemukan terdampar di pantai dekat Galveston, Texas, Amerika Serikat, pada Sabtu, 7 Maret 2026. Saat ditemukan, kondisi penyu itu sangat lemah dan tubuhnya dipenuhi organisme laut yang menempel, yang seluruhnya berwarna hijau.
Penyu ini ditemukan oleh tim penyelamat dari Gulf Center for Sea Turtle Research (GCSTR) setelah menerima laporan dari warga. Berdasarkan keterangan tim penyelamat, penyu tersebut tampak lesu dan tertutup barnakel, alga, sedimen, serta epibiont, yaitu organisme yang hidup menempel pada makhluk hidup lain. Kondisi tersebut menunjukkan penyu kemungkinan sudah lama mengalami gangguan kesehatan.
Menurut Direktur GCSTR, Christopher Marshall, penyu laut yang sehat biasanya terus berenang aktif. Ketika kesehatannya menurun dan gerak renangnya melambat, organisme-organisme di laut akan lebih mudah menempel di tubuhnya. Tambahan beban itu kemudian membuat penyu makin sulit bergerak dan menghabiskan lebih banyak energi, sehingga kondisinya bisa semakin memburuk.
Setelah dievakuasi dari pantai, penyu tersebut dibawa ke Houston Zoo untuk pemeriksaan darurat oleh dokter hewan. Setelah itu, penyu dipindahkan ke rumah sakit rehabilitasi milik GCSTR untuk menjalani perawatan lebih lanjut. Pihak GCSTR menyebut kondisi penyu masih kritis, tetapi mereka berharap hewan itu bisa pulih dan akhirnya dilepasliarkan kembali ke perairan Teluk Meksiko.
"Penyu ini dalam kondisi kritis tetapi sudah mendapatkan perawatan terbaik dari dokter hewan kami di Kebun Binatang Houston dan tim staf, sukarelawan, dan mahasiswa yang berdedikasi di rumah sakit kami," kata Marshall.
Spesies Kemp’s ridley dikenal sebagai penyu laut terkecil di dunia dan juga merupakan penyu resmi negara bagian Texas.
Menurut lembaga konservasi laut AS, NOAA Fisheries, spesies ini paling sering ditemukan di perairan Teluk dekat Texas. Meski begitu, jumlahnya sangat sedikit. Penyu ini berstatus terancam punah menurut hukum AS dan bahkan dikategorikan kritis oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), dengan perkiraan hanya sekitar 22.300 individu dewasa yang tersisa.
Spesies ini menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kerusakan habitat, aktivitas penangkapan ikan, tabrakan dengan kapal, hingga sampah laut. Karena itu, pihak berwenang mengingatkan masyarakat agar tidak menangani sendiri penyu yang terdampar, terluka, atau terlilit benda di laut, melainkan segera melapor kepada petugas penyelamat satwa liar.




