Pasar Keuangan Tertekan Jelang Libur Panjang

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Memasuki pekan terakhir sebelum libur panjang Nyepi dan Idul Fitri, pasar keuangan domestik tertekan. Ketidakpastian geopolitik global, lonjakan harga energi, serta penguatan dolar Amerika Serikat mendorong gejolak tinggi pada saham, obligasi, dan nilai tukar rupiah.

Pasar saham dalam negeri mengalami tekanan terparah pada perdagangan hari ini, Senin (16/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di level 7.115 dan sempat bergerak ke posisi terlemah di 6.917 pada perdagangan sesi pertama, dengan mayoritas saham dari berbagai sektor usaha melemah.

Ini merupakan pelemahan terburuk dari penutupan perdagangan Jumat (13/3/2026). Saat itu, IHSG turun tajam 3,05 persen ke level 7.137. Sepanjang tahun berjalan, indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu telah melemah 17,5 persen. Aksi jual investor asing mencapai Rp 8,9 triliun sejak awal 2026.

Tekanan juga terlihat pada pasar surat utang. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 7,4 basis poin ke level 6,80 persen, atau meningkat sekitar 72,7 basis poin sejak awal 2026. Sementara, imbal hasil obligasi global Indonesia berdenominasi dolar AS (INDON) tenor 10 tahun turut naik 5,6 basis poin menjadi 5,3 persen.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga akan berlanjut. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat (13/3/2026) melemah 0,30 persen ke posisi Rp 16.944 per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan, rupiah telah terdepresiasi 1,52 persen. Ia memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin ini bergerak di kisaran Rp 16.894 hingga Rp 16.985 per dolar AS.

“Dalam beberapa hari ke depan pasar keuangan Indonesia kemungkinan masih berada di bawah tekanan. Hal ini dipicu oleh penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat yang dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Andry dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).

Baca JugaPulau Kharg, Jantung Ekonomi Iran yang Akhirnya Dibombardir AS-Israel

Ketegangan global meningkat setelah AS melancarkan serangan terhadap target militer Iran di Pulau Kharg, salah satu pusat ekspor minyak utama negara tersebut. Washington juga mengancam memperluas serangan terhadap infrastruktur energi jika Iran mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Selat tersebut merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi dunia dan dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Gangguan terhadap jalur ini sempat mendorong harga minyak melonjak tajam hingga mendekati 120 dolar AS per barel sebelum akhirnya stabil di kisaran 103 dolar AS.

Lonjakan harga energi membuat investor semakin berhati-hati karena berpotensi memicu inflasi global baru serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Ketidakpastian geopolitik turut membebani pasar saham global. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,26 persen ke 46.558,47. Indeks S&P 500 melemah 0,61 persen ke 6.632,19.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,28 persen. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi akibat lonjakan harga energi.

Investor juga memburu aset safe haven sehingga indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) menembus level 100,3—tertinggi sejak pertengahan Mei 2025. Penguatan dolar ini berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain konflik Timur Tengah, Andry menambahkan, perhatian investor global pekan ini juga tertuju pada keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Pasar tidak memperkirakan perubahan suku bunga dalam pertemuan kali ini, tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan sinyal arah kebijakan moneter ke depan.

Kenaikan harga energi dinilai berpotensi menahan laju penurunan inflasi sehingga ruang pemangkasan suku bunga menjadi lebih terbatas. Saat ini pasar memperkirakan hanya satu kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed sepanjang 2026, lebih rendah dibanding ekspektasi sebelumnya.

Sentimen domestik IHSG

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, dalam keterangan terpisah, menilai tekanan pasar berpotensi berlanjut pada awal pekan ini. Ini tidak hanya karena tekanan eksternal, tetapi juga dari dalam negeri.

Ia menilai sentimen pasar akan dipengaruhi dinamika fiskal pemerintah di tengah lonjakan harga energi global. Kenaikan harga minyak dan batu bara berpotensi meningkatkan tekanan terhadap fiskal negara sehingga pemerintah perlu menjaga defisit anggaran tetap terkendali.

Baca JugaRisiko Kenaikan Plafon Defisit APBN Bayangi Pasar, IHSG Anjlok 3,05 Persen

Apabila defisit fiskal melebar, risiko yang muncul antara lain meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah, kenaikan imbal hasil obligasi negara, serta potensi pelemahan nilai tukar akibat meningkatnya persepsi risiko investor terhadap stabilitas fiskal Indonesia.

Selain itu, pelebaran defisit juga dapat mempersempit ruang stimulus fiskal di tengah ketidakpastian global.

Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada pekan depan. Konsensus pasar memperkirakan bank sentral masih akan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate guna menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah meningkatnya tekanan eksternal.

“Kombinasi dinamika fiskal dan arah kebijakan moneter tersebut diperkirakan akan menjadi faktor utama yang membentuk sentimen dan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek,” kata Hari.

Hari memperkirakan pergerakan IHSG dalam jangka pendek akan cenderung naik-turun dengan kecenderungan melemah, seiring masih dominannya sentimen eksternal, terutama eskalasi konflik antara AS dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.

Selama konflik tersebut berlangsung, volatilitas pasar global diperkirakan tetap tinggi karena investor cenderung menghindari risiko.

Di sisi lain, faktor musiman menjelang libur panjang Lebaran juga berpotensi membuat aktivitas transaksi pasar lebih terbatas karena sebagian investor memilih menahan diri membuka posisi baru hingga periode libur berakhir.

Dalam kondisi pasar yang diliputi ketidakpastian, investor disarankan lebih selektif dalam memilih saham, dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat, arus kas stabil, serta eksposur yang relatif defensif terhadap volatilitas global.

“Strategi smart money seperti wait and see, menjaga porsi kas lebih tinggi, serta melakukan akumulasi bertahap di area support dapat menjadi pendekatan yang lebih prudent sambil menunggu kejelasan perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan fiskal domestik,” ujar Hari.

Tim analis Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai volatilitas global masih berpotensi tinggi selama bursa domestik tidak beroperasi. Berdasarkan keterangan Bursa Efek Indonesia (BEI), pasar saham akan libur mulai 18 Maret hingga 24 Maret 2026.

Dalam dua hari perdagangan di pekan ini, IHSG diperkirakan akan ditopang batas bawah di sekitar level 7.120 hingga 7.000, sementara batas atas berada di kisaran 7.350 hingga 7.800.

"Kiwoom masih menyarankan untuk perbanyak sikap wait and see. Simpan lebih banyak uang tunai demi mengantisipasi gejolak global selama BEI tidak beroperasi," kata mereka berpesan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Ringkus 500 Mata-mata Musuh, Terlibat Bocorkan Data Serangan Pasca Gugurnya Khamenei
• 1 jam lalusuara.com
thumb
Melaju di Bahu Jalan, Pemudik Tabrakan Beruntun di Tol Pemalang
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
H-6 Lebaran, Korlantas Polri Catat 25% Kendaraan Sudah Tinggalkan Jakarta
• 16 jam laluokezone.com
thumb
Simak Harga Terbaru BBM Pertamina, Shell, Vivo, dan BP per Hari Ini
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jadwal Buka Puasa Jakarta dan Sekitarnya Hari Ini 15 Maret 2026
• 14 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.