Jusuf Kalla: Ada Risiko Utang Negara Naik Jika Defisit APBN Lebih 3 Persen

idxchannel.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jusuf Kalla (JK) mengingatkan adanya risiko besar, seperti utang negara meningkat, apabila defisit dalam APBN diperlebar lebih dari 3 persen.

Jusuf Kalla: Ada Risiko Utang Negara Naik Jika Defisit APBN Lebih 3 Persen. (Foto: Tangguh Yudha/iNews Media Group)

IDXChannel - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) mengingatkan adanya risiko besar apabila defisit dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperlebar lebih dari 3 persen.

Menurutnya, semakin besar defisit APBN maka beban pembayaran cicilan utang dan bunga juga akan meningkat. Kondisi itu berpotensi membuat porsi utang terhadap anggaran semakin besar dan dapat membahayakan keberlanjutan fiskal nasional.

Baca Juga:
Prabowo Sebut Indonesia Dapat Hilangkan Defisit APBN: Ini Harapan Kita

"Makin besar defisit juga itu ada risikonya nanti, bahwa pembayaran cicilan dan bunga makin tinggi. Jadi persentase utang kepada anggaran itu makin besar. Kalau utang makin besar, bisa maksimum kan 40 persen, bisa mencapai 50 persen, dan itu sangat berbahaya untuk kelanjutan hidup," kata JK, Minggu (15/3/2026) malam.

Meski demikian, ia menilai dalam kondisi ekonomi saat ini pemerintah sulit menjaga defisit tetap di bawah 3 persen, terutama jika harga minyak dunia naik sehingga subsidi energi ikut meningkat.

Baca Juga:
Defisit APBN di Bawah 3 Persen Sulit Dipertahankan, Airlangga Ungkap Tiga Skenario Terburuk

JK menilai kenaikan harga minyak dan beban subsidi akan membuat defisit semakin melebar. Dampaknya, ruang fiskal pemerintah untuk membiayai pembangunan menjadi semakin terbatas.

"Begitu defisit makin besar, kapasitas untuk pembangunan makin kecil. Itu harus diperbaiki," lanjutnya.

Baca Juga:
JK dan Guru Besar Kumpul Soroti Fiskal Daerah, Cari Solusi Soal Defisit Anggaran

Selain menyoroti risiko utang, JK juga menyinggung penurunan alokasi transfer anggaran ke daerah. Ia menyebut porsi transfer ke daerah yang sebelumnya mencapai sekitar 30 persen dari total pengeluaran pemerintah kini tinggal sekitar 17 persen.

Menurutnya, penurunan tersebut berpotensi memengaruhi kualitas pembangunan daerah, terutama karena pemerintah daerah memiliki tanggung jawab besar terhadap sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

JK menegaskan bahwa pemerintah pusat perlu memberi perhatian lebih terhadap kondisi fiskal daerah karena daerah merupakan bagian penting dari kekuatan negara secara keseluruhan.

"Dulu 30 persen daripada seluruh pengeluaran. Hari ini anggaran sekarang sisa 17 persen ke daerah. Jadi nanti infrastruktur daerah akan berbahaya, akan terjadi penurunan kualitasnya, dan juga pendidikan. Itu yang harus diperhatikan oleh pemerintah, bahwa daerah itu adalah kumpulan daripada negara," tuturnya.

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bertahan di Tanah Rawan: Kisah Santi dan Rumahnya di Lereng Bandung Barat
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Kapolda Metro Keliling Pantau Mudik di Terminal-Stasiun, Pastikan Masyarakat Terlayani
• 16 jam laludetik.com
thumb
Lokasi Pendaftaran Mudik Gratis Polri Presisi 2026 Beserta Dokumen yang Harus Dibawa
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Kirana Larasati Jadi Wanita Pertama Indonesia yang Selam Kedalaman 127 Meter
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Asmaul Husna: Al Mushawwir ‘Body Shaming’
• 10 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.