Analisis: Melihat Kegagalan Diplomasi Xi dari Posisi Juru Bicara Kementerian Luar Negeri

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Baru-baru ini seorang jurnalis Rusia mengajukan pertanyaan tajam yang membuat juru bicara Kementerian Luar Negeri PKT Guo Jiakun memberikan jawaban yang tidak langsung dan menghindari inti persoalan. 

Pada saat yang sama, juru bicara lain Geng Shuang dipindahkan dari posisinya dan dianggap sebagai “kambing hitam” diplomasi gaya keras atau serigala perang (“wolf warrior”). Selain itu, Kementerian Keamanan Negara PKT dilaporkan menarik personilnya dari Afghanistan. Berbagai tanda ini dinilai menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Xi Jinping sedang mengalami keruntuhan besar.

Pertanyaan Tajam dari Wartawan Rusia

Situasi internasional terbaru membuat para juru bicara Kementerian Luar Negeri PKT berada dalam posisi sulit.

Menurut situs resmi kementerian tersebut, pada 9 Maret dalam konferensi pers rutin yang dipimpin oleh Guo Jiakun, seorang wartawan dari media Rusia RT bernama Alina hampir mengutip secara persis pernyataan Menteri Luar Negeri Estonia Margus Tsahkna yang disampaikan pada 5 Maret.

Pernyataan itu berbunyi bahwa:  “Teman-teman Vladimir Putin entah sudah berada di surga, di neraka, atau di penjara; hanya sedikit yang tersisa.” Pernyataan tersebut memicu perhatian dan kontroversi. Wartawan itu kemudian bertanya: “Apa komentar pihak PKT?”

Guo Jiakun menjawab bahwa PKT mengembangkan hubungan kerja sama yang bersahabat dengan semua negara termasuk Rusia berdasarkan prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan, serta berharap pihak Estonia memandang hubungan PKT–Rusia secara objektif dan tidak membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab.

Namun dari isi yang dipublikasikan di situs resmi kementerian, tampak ada kejanggalan. Pertanyaan wartawan Rusia terlihat aneh—mengapa PKT diminta mengomentari teman-teman Putin? Jawaban Guo Jiakun juga tampak tidak menjawab pertanyaan. Setelah ditelusuri, ternyata saat mempublikasikan transkrip konferensi pers, kementerian tersebut menghapus satu kalimat penting dari pertanyaan wartawan itu, yaitu: “misalnya Korea Utara dan PKT.”

Penghapusan ini membuat orang luar yang membaca transkrip merasa seolah-olah pertanyaan dan jawaban tersebut sama-sama tidak masuk akal.

Media RT sendiri merupakan jaringan media negara Rusia yang dibentuk melalui dekret Putin dengan menggabungkan beberapa media pemerintah Rusia. Pertanyaan seperti itu secara lahiriah sebenarnya dapat dianggap menyinggung Putin secara langsung. Namun jurnalis media pemerintah PKT hampir tidak mungkin mengajukan pertanyaan serupa yang menyinggung Xi Jinping kepada pemerintah asing.

Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa kebebasan pers di Rusia masih lebih besar dibandingkan di PKT.

Rusia Menanggapi “Uluran Tangan” Trump

Mengapa wartawan Rusia mengajukan pertanyaan seperti itu? analisis menyebutkan bahwa tujuannya adalah memaksa PKT secara terbuka membantah kritik Barat terhadap Putin dalam forum diplomatik, sehingga memperkuat narasi persahabatan PKT–Rusia.

Namun faktanya bahwa Rusia merasa perlu melakukan hal itu menunjukkan bahwa hubungan PKT–Rusia mungkin sedang mengalami masalah.

Di sisi lain, dunia melihat Rusia mulai merespons “uluran tangan” dari Presiden AS Donald Trump.

Misalnya:

Hal ini bertentangan dengan upaya PKT yang selama ini mendorong negara-negara seperti Venezuela dan Iran untuk menggunakan yuan sebagai alternatif dolar.

Selain itu, laporan media Amerika tahun lalu mengungkap bahwa Federal Security Service (FSB) Rusia memiliki unit intelijen rahasia yang bahkan menganggap PKT sebagai potensi musuh karena aktivitas spionase selama perang Rusia–Ukraina.

Pergeseran Sikap PKT dalam Perang Rusia–Ukraina

Dalam Munich Security Conference, Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengungkap isi pembicaraannya dengan Menteri Luar Negeri PKT Wang Yi.

Menurutnya, PKT bersedia memberikan bantuan gratis berupa peralatan energi kepada Ukraina untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat serangan Rusia.

Langkah ini dinilai sebagai perubahan sikap dari posisi sebelumnya yang sangat condong ke Rusia.

Nasib “Diplomat Serigala Perang”

Diplomat terkenal bergaya keras Geng Shuang baru-baru ini diketahui menjabat sebagai Wakil Ketua Chinese People’s Institute of Foreign Affairs.

Secara formal jabatan tersebut terlihat setara, tetapi sebenarnya merupakan posisi yang lebih bersifat seremonial dan kurang berpengaruh dibandingkan posisinya sebelumnya sebagai wakil duta besar PKT untuk PBB.

Geng Shuang dikenal luas sejak menjadi juru bicara Kementerian Luar Negeri pada 2016 karena gaya retorikanya yang keras terhadap Amerika Serikat.

Sebagian media menilai pemindahannya bertujuan untuk meredakan citra “wolf warrior diplomacy”. Namun analisis ini menyebut bahwa gaya tersebut bukan keputusan pribadi, melainkan merupakan bagian dari strategi diplomasi Xi Jinping.

Tiga Langkah Trump yang Mengguncang Strategi Beijing

Menurut analisis ini, tiga langkah besar Trump pada awal tahun sangat memukul kepentingan global PKT:

  1. Operasi militer terhadap Iran
  2. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro
  3. Dukungan terhadap Panama untuk mencabut hak pengelolaan pelabuhan Terusan Panama

Ketiga langkah tersebut melemahkan jaringan pengaruh luar negeri yang selama puluhan tahun dibangun Beijing.

Dalam kasus serangan terhadap Iran, Dewan Keamanan PBB memang mengadakan rapat darurat tetapi tidak mengeluarkan resolusi apa pun.

Situasi ini dianggap menunjukkan bahwa pengaruh diplomatik PKT di lembaga internasional terbatas.

Penarikan Personel dari Afghanistan

Keruntuhan strategi global Beijing juga terlihat dari keputusan menarik personel keamanan dari Afghanistan.

Sejak akhir tahun lalu, staf keamanan dari Kementerian Keamanan Negara PKT secara bertahap meninggalkan Kabul.

Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya konflik internal di kalangan Taliban antara faksi garis keras dan faksi pragmatis.

Kelompok garis keras semakin bersikap bermusuhan terhadap kekuatan asing termasuk PKT, bahkan menuntut Beijing secara terbuka mendukung “Emirat Islam Afghanistan”.

Selain itu, serangan terhadap warga negara Tiongkok dan perusahaan Tiongkok di Afghanistan meningkat.

Strategi Diplomasi yang “Berakhir Buruk”

Sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, PKT memilih bekerja sama dengan mereka. Namun situasi saat ini dianggap menunjukkan kesalahan perhitungan strategis.

Afghanistan sebelumnya telah memaksa Uni Soviet dan kemudian Amerika Serikat untuk menarik pasukan mereka. Karena itu, muncul pertanyaan: mengapa Beijing yakin dapat berhasil di sana?

Menurut analisis ini, berbagai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa strategi diplomasi global Xi Jinping sedang mengalami kegagalan besar.

Dicetak ulang dari The Epoch Times edisi bahasa Mandarin/ Editor: Yue Yuan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hasil Liga Inggris: MU Bekuk Aston Villa 3-1, Tottenham Curi Poin di Kandang Liverpool!
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Sinopsis Film Doom: Perjuangan Rosamund Pike Melawan Teror Mutan di Mars
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
China dan CPTPP: Ketika Perjanjian Dagang Menjadi Arena Geopolitik Asia-Pasifik
• 36 menit lalukumparan.com
thumb
Pram soal Pengolahan Sampah di RDF Rorotan: Diturunkan Jika Lewati Ambang Batas
• 46 menit lalukumparan.com
thumb
Menlu Iran Bantah Klaim Trump soal Negosiasi dengan AS
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.