Jangan Asal Lewat Lajur Contraflow Saat Mudik, Cermati Hal Berikut

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Sama seperti edisi sebelumnya, perjalanan mudik tahun ini dengan mobil pribadi via ruas tol tertentu diwarnai rekayasa lalu lintas untuk mengurai volume kendaraan. Salah satu cara yang dilakukan adalah seperti contraflow.

Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (IDDC), Jusri Pulubuhu mengingatkan ada beberapa hal yang perlu dicermati sebelum memutuskan untuk masuk ke lajur artifisial tersebut. Utamanya berkaitan dengan kondisi pengemudi.

Contraflow adalah the most dangerous section yang akan dihadapi oleh para pemudik. Karena ini beda dengan sistem serupa yang biasa digelar di ruas tol dalam kota dengan jarak yang lebih pendek," buka Jusri kepada kumparan, Sabtu (14/3/2026).

Jusri menambahkan, sistem contraflow bukan lajur khusus untuk kendaraan yang lebih cepat, melainkan sistem distribusi atau pembagian beban jalur pada ruas tol utama karena volume kendaraan meningkat saat periode arus mudik.

"Maka dari itu perlu ketertiban yang lebih tinggi lagi ketika melewatinya. Saat berada di lajur contraflow, justru pressure pengemudi lebih kuat karena dia sebenarnya berada di ruas jalur berlawanan," imbuhnya.

Minim rambu lalu lintas

Jusri bilang, karena mekanisme pemberlakuannya periodik, maka lajur contraflow sudah tentu minim rambu lalu lintas. Tidak ada informasi ke arah gerbang keluar (exit gate), batas kecepatan, dan penanda kecepatan.

"Wajib patuh menjaga jarak jarak dengan kendaraan di depannya, lajur contraflow ini umumnya hanya satu dan cukup sempit. Sedikit perubahan sangat pasti berefek dengan lalu lintas yang ada di belakangnya," papar Jusri.

Tekanan mengemudi

Satu faktor yang menjadi perhatian selanjutnya adalah tekanan bagi pengemudi ketika melewati lajur lawan arah ini. Pengemudi dituntut selalu fokus agar tetap di lajurnya, tak adanya jarak pembatas antar lajur dari arah berlawanan menjadikan risikonya semakin tinggi.

"Lewat lajur ini punya risiko kecelakaan adu banteng yang sangat tinggi dengan kendaraan dari arah berlawanan. Kemudian diharuskan menjaga kecepatan, melambat sedikit saja akan memperhambat kendaraan lain di belakangnya," kata Jusri.

Belum lagi berkendara di tengah puasa akan menjadi salah satu faktor energi terbuang lebih cepat. Keadaan stop and go karena lalu lintas menjadi lebih padat atau berusaha menjaga jarak, membuat potensi kelelahan pengemudi menjadi meningkat.

Mitigasi darurat yang lebih susah

Lebih-lebih ketika situasi darurat menimpa kendaraan sendiri atau orang lain. Ruang yang terbatas membuat evakuasi menjadi lebih sulit, misalnya bila ban mengalami kebocoran dan harus diganti atau tiba-tiba kendaraan di depan deselerasi mendadak secara ekstrem.

"Kalau terjadi potensi benturan dengan kendaraan di depan akibat rem mendadak, ambil ruang darurat ke sebelah kiri untuk ruas tol yang bagian tengahnya berupa bidang terbuka lebar atau rumput," ucap Jusri.

Tidak dapat beristirahat

Lagi-lagi perihal situasi yang memang dibutuhkan, seperti menepi untuk istirahat atau buang air yang biasa dilakukan di lajur ruas normal. Lantaran tidak ada ada akses untuk ke rest area atau sejenisnya.

“Selain itu sekitar 76 persen penyebab kecelakaan lalu lintas di dunia terjadi karena menyalip. Ketika menyalip, kita melakukan percepatan dari kendaraan di depan yang kita tidak tahu ada apa saja di sisi depan, jadi harus sangat hati-hati,” sebut Jusri.

Maka dari itu, persiapkan rencana yang matang untuk masuk ke lajur contraflow yang panjangnya bisa puluhan kilometer. Jusri mengingatkan pengemudi tidak dapat melakukan pergantian jika merasa kelelahan.

“Sebelum masuk contraflow pemudik harus paham saat kondisi darurat, mereka harus memiliki Emergency Response Plan (ERP), atau respons tanggap darurat. Apa yang harus dilakukan kita harus siap, bila tidak yakin jangan ikut-ikutan masuk jalur contraflow,” tuntas Jusri.

Jadwal sistem contraflow arus mudik dan balik Lebaran 2026

Pada arus mudik, contraflow diterapkan di tol Jakarta–Cikampek KM 47 (Karawang Barat) hingga KM 70 (Cikampek) dalam dua periode.

Untuk arus balik, contraflow diberlakukan di ruas tol Jakarta–Cikampek KM 70 hingga KM 47 mulai Senin, 23 Maret 2026 pukul 14.00 WIB sampai Minggu, 29 Maret 2026 pukul 24.00 WIB.

Selain itu, rekayasa serupa juga diterapkan di tol Jagorawi KM 21 (Gunung Putri) hingga KM 8 (Cipayung) pada Selasa, 24 Maret 2026 dan Minggu, 29 Maret 2026 pukul 14.00–19.00 WIB.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Yakob dan Yance Sayuri Masuk Daftar Skuad Provisional Timnas Indonesia, Malut United Beri Dukungan Penuh pada Sayuri Bersaudara ‎
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Iran Tak Pernah Minta Gencatan Senjata, Tegaskan Siap Pertahankan Diri Selama Diperlukan
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kemenhaj: 25.922 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air di Tengah Konflik Timteng
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
Tiket Lebaran KAI Terjual 3,12 Juta, Kursi Masih Tersedia
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
H-6 Lebaran, Pemudik Motor Mulai Padati Jalan Kalimalang Bekasi
• 16 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.