Dalam beberapa hari terakhir, banyak warganet yang mengunggah aktivitas iktikaf di media sosial. Bentuk pengasingan atau berdiam diri dari hiruk-pikuk dunia demi mendekatkan diri kepada Allah pada bulan yang penuh berkah ini telah bergeser dari ruang personal ke ruang di media sosial.
Unggahan kegiatan iktikaf di media sosial cukup beragam, mulai dari yang khusyuk shalat dan membaca Al-Quran, bermain gawai, hingga berbaring di masjid. Kegiatan yang banyak diunggah di media sosial itu juga terlihat di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026) dini hari.
Ratusan orang tampak terjaga dengan shalat dan membaca Al-Quran. Beberapa yang lain tertidur pulas. Ada juga jemaah yang asyik memainkan gawainya. Beberapa orang lainnya beraktivitas di luar bangunan masjid peninggalan kolonial Belanda tersebut, seperti berbincang-bincang sambil minum kopi dan merokok.
Edo Sep Teddy (51), misalnya, tampak berbaring sendirian di sudut masjid beralaskan karpet yang wangi gaharu. Ia memainkan gawainya dengan mata sayu. Meskipun sudah mengantuk, Teddy tetap berjaga sambil menunggu kajian malam yang dijadwalkan mulai pukul 01.30 WIB. Jadwal itu mundur dan kajian baru dimulai pukul 02.00 WIB.
Walau sudah mengantuk, Teddy begitu antusias menceritakan kebiasaannya mengikuti iktikaf setiap 10 malam terakhir Ramadhan. ”Dari dulu juga iktikaf tiap tahun,” ujar warga Kebon Sirih, Jakarta Pusat, tersebut.
Menurut dia, kesempatan iktikaf jangan sampai disia-siakan, apalagi dilaksanakan hanya setahun sekali. Iktikaf bisa menjadi cara untuk membersihkan diri. Ia sangat senang mendengarkan ceramah dan shalat, yang dilanjutkan dengan sahur bersama.
Ia tak memungkiri bahwa iktikaf cukup menguras energinya. Namun, hal itu tak mengurangi semangatnya menjalankan iktikaf di tengah aktivitasnya sebagai pedagang barang antik.
Teddy memilih Masjid Cut Meutia sebagai tempat iktikaf karena dekat dengan rumahnya sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Selain itu, masjid ini terasa nyaman.
Wangi gaharu di karpet Masjid Cut Meutia berasal dari parfum yang disemprotkan di karpet. Panitia Ramadhan Masjid Cut Meutia, Mochamad Derisman Nugraha, menuturkan, parfum tersebut disemprotkan tidak hanya saat iktikaf, tetapi sudah ada sejak bulan Ramadhan berlangsung. Persiapan iktikaf juga sudah dilakukan sebelum Ramadhan, seperti mencari penceramah.
Semangat untuk menjalankan iktikaf ditunjukkan pula oleh jemaah di Masjid Istiqlal yang juga berada di Jakarta Pusat. Jemaah di masjid ini lebih banyak dan beragam daripada di Masjid Cut Meutia. Ada yang datang sendiri, ada pula yang mengikuti iktikaf bersama keluarga atau kerabat.
Zubaedah (65) datang sendiri dari Kemanggisan, Jakarta Barat. Istiqlal dipilihnya karena akses transportasi untuk menjangkau masjid ini mudah. Ia cukup naik angkutan umum secara gratis karena sudah lanjut usia. Selain itu, masjid ini sudah pasti ada iktikaf.
Ketertarikan Zubaedah ke Masjid Istiqlal diawali dari keinginan berbuka puasa gratis pada 2015 seusai memeriksa kesehatannya di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM). Sejak saat itu, ia rutin datang ke Istiqlal setiap bulan Ramadhan hingga tertarik mengikuti iktikaf di masjid ini.
Dari keinginan sederhana ini, Zubaedah merasakan kedamaian dan lebih bersemangat menjalani hidupnya. ”Saya Insya Allah biasanya memang setiap tahun (mengikuti iktikaf) 10 hari terakhir (Ramadhan),” ucap perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang tersebut.
Peserta iktikaf di Masjid Istiqlal lainnya, Deddy Azwar Shah (38), datang bersama istri dan kedua anaknya. Mereka datang dari Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Keputusannya mengajak kedua anaknya yang masih berusia 12 dan 13 tahun agar mereka terbiasa mengikuti iktikaf sejak kecil.
”Semoga ini jadi kebiasaan bagi mereka setiap tahun,” ujar perantau asal Aceh yang bekerja sebagai pedagang emas tersebut.
Bagi Deddy, iktikaf menjadi kesempatan yang besar bagi dirinya untuk merenung dan melihat kembali apa saja yang sudah dilakukan selama setahun dalam hidupnya. Cara ini membuatnya menjadi lebih damai dalam menjalani hidup.
Sebelum meninggalkan masjid, tak lupa Deddy mengabadikan kemegahan Istiqlal dengan menggunakan gawainya lalu dibagikan lewat media sosial. Cara ini dilakukannya sebagai bentuk syiar dan mengajak orang lain untuk ikut iktikaf.
”Kadang, ada teman dengan konten kita terbuka hatinya,” ucapnya.
Media sosial cukup membantu orang muda seperti Febriansyah (25), warga Cengkareng, Jakarta Barat, mengetahui masjid mana saja yang mengadakan iktikaf seperti Masjid Cut Meutia dan Masjid Istiqlal. Sebab, tidak semua masjid buka 24 jam. Baginya, iktikaf menjadi kesempatan besar dalam mencari pahala sebanyak-banyaknya pada 10 hari terakhir Ramadhan.
Sejumlah anak muda juga tampak mengikuti iktikaf seperti yang terlihat di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/3/2026) dini hari. Masjid ini cukup ramai dikunjungi jemaah yang mengikuti iktikaf. Bahkan, tak sedikit yang mengikuti iktikaf di luar gedung karena sudah penuh. Suasana bertambah ramai dengan keberadaan warung tenda yang berjualan makanan dan minuman di halaman masjid.
Salah seorang pemuda yang ikut iktikaf, Reza (25), tampak bersemangat meskipun tubuhnya terlihat lelah. Ia memeluk sebuah guling biru sambil mengisap rokoknya di sudut halaman masjid untuk menghilangkan rasa kantuk. Guling menjadi teman Reza ketika sudah tidak kuat menahan kantuk. Terkadang, ia juga membawa bantal.
Pemuda asal Menteng yang sehari-hari bekerja di perbankan tersebut memilih Masjid Agung Sunda Kelapa karena dekat rumahnya sehingga bisa jalan kaki. Reza sudah dua kali mengikuti iktikaf pada Ramadhan tahun ini. Meskipun sempat terlewat, ia berusaha bisa ikut iktikaf secara maksimal demi mengejar pahala yang berlipat ganda.
”Insya Allah, pahalanya dilipatgandakan di sepuluh hari terakhir (Ramadhan),” ujarnya.
Ketua Panitia Amaliyah Ramadhan Masjid Istiqlal untuk bulan Ramadhan 2026, Bukhori Sail Attahiri, memandang positif kehadiran media sosial. Masjid Istiqlal pun mempromosikan program mereka di media sosial.
”(Media sosial) itu bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama anak muda. Anak muda banyak yang mengadakan kegiatan di sini,” jelas Bukhori.
Informasi tentang iktikaf di Masjid Istiqlal pun dibagikan di media sosial secara detail, seperti waktu, acara, dan pemandu iktikaf. Imbauan dalam mengikuti iktikaf juga disampaikan, seperti membawa makanan sahur pribadi meskipun disediakan secara terbatas.
Adapun iktikaf di Masjid Istiqlal dibagi menjadi tiga macam. Bukhori menjelaskan, ada iktikaf very important person (VIP). Masjid Istiqlal bekerja sama dengan hotel sekitar untuk kategori iktikaf ini. Alhasil, peserta bisa beristirahat di hotel, sedangkan ibadahnya di Masjid Istiqlal.
Iktikaf jenis kedua mewajibkan peserta mendaftarkan diri yang terbatas untuk 500 orang. Masjid Istiqlal menyediakan tempat untuk beristirahat dan menyimpan barang-barang pada kategori ini.
Sementara itu, jenis ketiga, peserta bebas datang mengikuti iktikaf. Namun, panitia tidak melayani mereka sehingga bisa mencari tempat dan mengantre makan sendiri.
Istiqlal menjadi salah satu tempat iktikaf yang banyak didatangi orang dari berbagai daerah, bahkan luar negeri. Masjid ini sangat luas sehingga bisa menampung banyak jemaah dan karpetnya nyaman untuk beristirahat.
Bukhori menuturkan, iktikaf dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang tidak tidur di rumahnya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi di masjid. ”Jadi, ini memang syariat, memang diperintahkan. Sifatnya bukan wajib, sunnah muakkad.”
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie melihat praktik keagamaan tidak pernah sepenuhnya terlepas dari dinamika sosial dan kultural yang melingkupinya. Begitu juga dengan fenomena iktikaf yang dahulu cenderung bersifat personal dan kontemplatif kini bertransformasi dalam ruang sosial yang lebih terbuka, terutama melalui kehadiran media sosial.
Dalam perspektif teologi Islam, iktikaf pada dasarnya adalah ibadah yang sangat personal. Iktikaf merupakan bentuk pengasingan diri dari hiruk pikuk dunia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, iktikaf menuntut konsentrasi penuh dalam ruang sakral masjid.
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa melakukan iktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tradisi ini memperlihatkan bahwa iktikaf merupakan praktik yang sangat intim antara manusia dan Tuhan.
Akan tetapi, jika dilihat dari perspektif sosiologi agama, praktik keagamaan selalu memiliki dimensi sosial. Ahmad mengutip pernyataan sosiolog Perancis, Emile Durkheim, yang menjelaskan bahwa ritual agama tidak hanya membangun hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di antara para penganutnya.
”Berkumpulnya banyak orang dalam iktikaf, termasuk anak muda, sebenarnya menciptakan apa yang disebut Durkheim sebagai collective effervescence, yaitu pengalaman spiritual bersama yang memperkuat identitas komunitas religius,” jelas Ahmad.
Media sosial menjadi medium baru yang memperluas pengalaman kolektif tersebut. Jika dahulu pengalaman spiritual berhenti di ruang masjid, kini berlanjut ke ruang digital. Foto, video, atau cerita tentang iktikaf sering kali menjadi cara mendokumentasikan pengalaman spiritual pribadi sekaligus membagikannya kepada komunitas yang lebih luas.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa spiritualitas Islam mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Ritual klasik seperti iktikaf tetap hidup, tetapi menemukan bentuk ekspresi baru dalam ruang digital.
”Maka, yang paling penting adalah menjaga agar ruh keikhlasan tetap hadir dalam pengalaman iktikaf, termasuk ketika pengalaman tersebut dibagikan kepada orang lain,” kata Ahmad.
Sebagaimana pesan para ulama, amal yang kecil tetapi ikhlas lebih berharga daripada amal besar yang tercemar riya’. Iktikaf mengajarkan untuk kembali kepada inti ibadah, yakni kesunyian hati di hadapan Allah.





