Bahlil Tawarkan Nikel hingga Logam Tanah Jarang ke Jepang, Nuklir Ikut Dibahas

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Indonesia dan Jepang menyepakati kerangka kerja sama di sektor energi yang mencakup pengelolaan mineral kritis hingga pengembangan energi nuklir. Kerja sama ini menjadi salah satu fokus dalam pertemuan bilateral Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Ryosei Akazawa di sela kegiatan Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3).

Dalam pertemuan tersebut, Bahlil membuka peluang bagi pemerintah dan pelaku usaha Jepang untuk terlibat dalam pengelolaan mineral kritis yang dimiliki Indonesia. Hal ini sejalan dengan penandatanganan dokumen Memorandum of Cooperation (MoC) antara kedua negara.

"Saya sangat menyambut baik tentang memorandum yang kita hari ini tanda tangani, khususnya di bidang mineral kritis, kami sangat terbuka, kami dengan senang hati untuk meminta kepada pemerintah Jepang maupun teman-teman pengusaha Jepang untuk bisa mengelola bersama-sama mineral kritis kami yang ada di Indonesia," kata Bahlil.

Ia menilai kerja sama ini dapat memperkuat sistem energi yang lebih terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan sekaligus memperkokoh rantai pasok global mineral strategis.

Bahlil menegaskan Indonesia memiliki potensi besar dalam berbagai komoditas mineral penting yang dibutuhkan dalam pengembangan teknologi energi bersih.

"Kita tahu bahwa Indonesia mempunyai cadangan 43 persen dari total nikel dunia, dan juga kita menjadi pemain bauksit salah satu terbesar, timah, dan juga punya tembaga. Saya persilakan, ada logam tanah jarang, jadi kalau mampu kita bisa implementasikan, saya pikir itu adalah hal yang baik," ujarnya.

Selain mineral kritis, kedua negara juga membahas peluang kerja sama di bidang energi nuklir. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir dengan tetap mengedepankan standar keselamatan yang tinggi.

Melalui kerja sama tersebut, Indonesia berpeluang memanfaatkan pengalaman dan teknologi Jepang dalam pengembangan solusi energi rendah karbon.

Di sisi lain, Menteri METI Jepang Ryosei Akazawa menilai kerja sama antarnegara menjadi semakin penting di tengah dinamika geopolitik global yang penuh ketidakpastian. Menurutnya, penguatan kolaborasi energi diperlukan untuk menjaga ketahanan pasokan energi.

"Di tengah situasi krisis global saat ini, penting bagi kita untuk memperkuat kerja sama demi menjaga ketahanan energi. Jepang sendiri telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipasi," kata Akazawa.

Indonesia dan Jepang juga akan melanjutkan diskusi terkait penguatan ketahanan energi kawasan, termasuk kerja sama pada rantai pasok LNG dan batu bara, serta percepatan berbagai proyek transisi energi di bawah kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC).

Beberapa proyek yang dibahas antara lain operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla serta penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka. Jepang juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung berbagai proyek kerja sama energi dengan Indonesia, termasuk penyelesaian PLTSa Legok Nangka. Selain itu, Akazawa mengapresiasi langkah Indonesia yang memberikan dukungan terhadap izin ekspor LNG ke Jepang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mudik Lebaran, Keberangkatan Bus Naik 20 Persen dari Terminal Leuwi Panjang Bandung | KOMPAS SIANG
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Danantara Indonesia dan PLN Salurkan 5.000 Paket Perlengkapan Sekolah ke 3 Provinsi di Indonesia
• 20 jam laludisway.id
thumb
Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Sukabumi, Ketiga yang Terasa di Jabar Maret Ini
• 18 jam lalukatadata.co.id
thumb
Patra Logistik Pastikan Distribusi Energi Pertamina Tetap Optimal Jelang Idul Fitri
• 4 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Momentum 4 Dekade, IKA Smansa 86 Hadirkan Kebahagiaan Ramadan kepada 208 Anak Panti Asuhan dan Tahfiz Al-Qur’an
• 18 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.