Kasus Campak Didominasi Usia 9 Bulan ke Atas, Vaksinasi Tak Perlu Dimajukan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada rencana untuk memajukan jadwal pemberian vaksin campak pada bayi, meskipun Indonesia sedang menghadapi kejadian luar biasa (KLB) serta adanya peningkatan kasus di sejumlah negara.

Menurut Piprim, keputusan jadwal vaksinasi didasarkan pada berbagai penelitian mengenai kekebalan yang diterima bayi dari ibunya. Kekebalan alami tersebut diketahui masih bertahan hingga bayi berusia sekitar sembilan bulan.

“Jadi memang kekebalan yang dibawa dari ibu ya, itu berdasarkan penelitian masih ada sampai anak itu kira-kira sembilan bulan ya,” ucap dr. Piprim di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3).

Belum Rencanakan Memajukan Jadwal Vaksin

Ia menambahkan, wacana untuk memajukan vaksin campak menjadi usia enam bulan sebenarnya pernah dipertimbangkan. Namun, berdasarkan data yang ada, kasus campak pada bayi di bawah usia sembilan bulan jumlahnya tidak sebanyak kasus pada anak yang lebih besar.

Oleh karena itu, jika vaksin diberikan lebih awal, dikhawatirkan justru menjadi tindakan yang tidak terlalu diperlukan.

“Jadi prioritasnya belum ke situ. Nanti kalau kita vaksinnya dipakai ke anak umur 6 bulan, padahal kasusnya nggak terlalu banyak justru akan melakukan sesuatu yang tidak perlu,” tegasnya.

Sehingga, fokus utama pencegahan saat ini justru diarahkan pada kelompok usia yang paling banyak terdampak. IDAI menekankan pentingnya memastikan anak-anak mendapatkan vaksin sesuai jadwal, terutama pada usia 9 bulan hingga 15 tahun, karena pada rentang usia tersebut kasus campak paling banyak ditemukan.

Dengan demikian, strategi yang saat ini diprioritaskan adalah meningkatkan cakupan imunisasi pada kelompok usia tersebut agar penyebaran campak dapat ditekan.

“Kita fokus di 9 bulan ke atas sampai 15 tahun karena disitulah yang memang paling banyak terkena campak sampai saat ini,” tutup dr. Piprim.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wakapolri Tekankan Antisipasi Rekayasa Lalu Lintas dan Optimalisasi Layanan Mudik
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Desak Usut Tuntas Penyiraman Air Keras, Masyarakat Sipil Gaungkan "Makin Berani karena Andrie"
• 21 jam lalukompas.id
thumb
Serangan Israel ke Fasilitas Kesehatan Lebanon Tewaskan 14 Tenaga Medis, WHO Ungkap Rangkaian Serangan Sejak Awal Maret
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Amerika Serikat Luncurkan Serangan Presisi ke Pulau Kharg Iran, Targetkan Lebih dari 90 Fasilitas Militer
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Kisah Arafik dan Taufik, Si Kembar Jadi Kordes KKN Universitas Muhammadiyah Bulukumba di Bantaeng
• 18 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.