Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran menyindir Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) yang mengemis kepada negara-negara lain untuk ikut mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz yang aksesnya ditutup Iran khusus untuk AS-Israel beserta sekutunya.
“AS sekarang mengemis kepada negara lain, bahkan China, untuk membantu membuat Selat Hormuz aman,” kata Aragchi dalam cuitannya di platform X (sebelumnya Twitter), Sabtu (14/3/2026).
Dalam cuitannya, dia juga menilai klaim perlindungan keamanan AS di kawasan Teluk justru terbukti lemah.
“Payung keamanan AS yang selama ini digembar-gemborkan terbukti penuh lubang dan justru mengundang masalah, bukan mencegahnya,” tulis Araghchi.
Selain itu, Menlu Iran juga menyerukan negara-negara di kawasan untuk menolak kehadiran militer asing di wilayah mereka.
“Iran menyerukan kepada negara-negara tetangga yang bersaudara untuk mengusir agresor asing, terutama karena satu-satunya perhatian mereka adalah Israel,” tulisnya.
Sebelumnya, Trump marah dan menyerukan banyak negara untuk mengirim kapal perang mereka guna menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.
Seruan itu disampaikan Trump setelah Iran mengumumkan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia itu tetap terbuka untuk pelayaran internasional, kecuali untuk kapal-kapal milik AS-Israel dan negara sekutunya.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Sabtu (15/3/2026), Trump mengatakan sejumlah negara akan mengirimkan kapal perang bersama AS untuk memastikan jalur tersebut tetap terbuka dan aman.
“Banyak negara, terutama yang terdampak upaya Iran menutup selat itu, akan mengirim kapal perang bersama Amerika Serikat untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan aman,” tulis Trump seperti dikutip Al Jazeera.
Dia menyebut beberapa negara yang diharapkan ikut dalam langkah tersebut antara lain China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Kerajaan Inggris. Dalam unggahan yang sama, Trump juga mengklaim Militer AS telah melumpuhkan hampir seluruh kemampuan militer Iran.
“Kami sudah menghancurkan 100 persen kemampuan militer Iran,” tulisnya.
Meski demikian, Presiden AS itu mengakui Teheran masih berpotensi melakukan serangan terbatas.
“Mereka mungkin masih bisa mengirim satu atau dua drone, menebar ranjau, atau meluncurkan rudal jarak dekat di jalur itu,” lanjutnya.
Trump juga menegaskan AS akan terus melakukan serangan terhadap posisi Iran di sekitar jalur tersebut.
“Sementara itu, kami akan terus membombardir garis pantai dan menembaki kapal-kapal Iran sampai selat itu kembali TERBUKA, AMAN, dan BEBAS,” tulis Trump.
Tapi, di tengah ketegangan tersebut, beberapa kapal dari negara tertentu masih diizinkan melintas. Dua kapal tanker berbendera India yang mengangkut gas minyak cair dilaporkan berhasil melewati selat tersebut pada Sabtu pagi.
Mohammad Fathali Duta Besar Iran untuk India mengatakan, Teheran memberikan pengecualian khusus setelah adanya pembicaraan langsung antara Narendra Modi Perdana Menteri India dan Masoud Pezeshkian Presiden Iran.
Sebuah kapal milik perusahaan Turki juga dilaporkan telah diizinkan melintas setelah pemerintah Ankara melakukan negosiasi langsung dengan Teheran. Namun, sekitar 14 kapal Turki lainnya masih menunggu izin.
Di sisi lain, AS terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut. Sekitar 2.500 marinir dan kapal serbu amfibi USS Tripoli dikabarkan sedang menuju Timur Tengah setelah permintaan dari Pusat Komando AS (Centcom) disetujui oleh Pete Hegseth Menteri Pertahanan AS.
Penutupan Selat Hormuz juga memicu kekhawatiran global. Lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies memperingatkan bahwa gangguan jalur ini berpotensi mengancam keamanan pangan dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur penting ekspor gas alam cair yang menjadi bahan utama pembuatan pupuk nitrogen, yang digunakan untuk memproduksi berbagai komoditas pangan utama di dunia.
Bahkan Tom Fletcher Kepala bantuan kemanusiaan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan dampak kemanusiaan jika jalur tersebut tidak dapat dilalui.
“Jutaan orang berisiko terdampak jika bantuan kemanusiaan tidak dapat melewati selat itu dengan aman,” ujarnya.
Konflik yang pecah sejak 28 Februari itu telah merengut sedikitnya 1.444 korban jiwa di Iran, sementara korban juga terus bertambah di kawasan lain di Timur Tengah akibat serangan drone dan rudal yang terus berlangsung.(bil/rid)




