Jika biasanya panci presto digunakan untuk melunakkan daging, di tangan Dr Tjahja Muhandri, inovator dari IPB University, alat dapur ini justru dikembangkan menjadi teknologi sterilisasi produk pangan. Inovasi ini bahkan berhasil masuk dalam daftar 117 Inovasi Indonesia dari Business Innovation Center (BIC) tahun 2025.
Dikutip dari laman IPB University, alat sterilisasi tersebut dirancang untuk membantu industri kecil memproduksi makanan kemasan yang steril sehingga dapat memenuhi standar izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Menurut Tjahja, selama ini, banyak pelaku usaha makanan kemasan skala kecil menghadapi tantangan ketika ingin mengurus izin edar. Salah satu penyebabnya adalah proses produksi yang belum sepenuhnya memenuhi standar Good Manufacturing Practices (GMP), terutama pada tahap sterilisasi produk pangan dalam kemasan.
Melihat kondisi tersebut, Tjahja mencoba menghadirkan solusi yang lebih sederhana dan terjangkau. Ia pun akhirnya mengembangkan metode sterilisasi makanan dengan memodifikasi panci presto komersial berkapasitas 50 liter.
Dalam modifikasi tersebut, panci presto dilengkapi dengan keranjang khusus sebagai tempat produk selama proses sterilisasi. Penambahan komponen ini bertujuan agar produk dapat tersusun rapi dan panas di dalam panci dapat tersebar secara lebih merata.
“Alat ini saya produksi bekerja sama dengan PT Rubyval Berkat Validitas. Alat tersebut merupakan modifikasi dari panci presto yang ada di pasaran dengan menambahkan termometer, pengukur tekanan, kran pembuangan uap, serta keranjang untuk wadah produk,” kata Tjahja dikutip dari laman IPB University, Jumat (13/3).
Alat ini juga telah diuji aman pada suhu 110°C, yang merupakan suhu kerja maksimal panci presto komersial dalam kondisi normal. Menariknya, proses sterilisasi tidak memerlukan peralatan industri yang rumit. Cukup menggunakan kompor gas rumah tangga sebagai sumber panas, proses sterilisasi produk pangan dalam kemasan sudah dapat dilakukan.
Dari segi biaya, teknologi ini dinilai jauh lebih terjangkau dibandingkan alat sterilisasi komersial yang biasanya membutuhkan sistem uap dan boiler. Selain mahal, beberapa alat komersial juga belum tentu mampu menjamin distribusi panas yang merata selama proses sterilisasi.
Menurut Tjahja, potensi penggunaan inovasi ini sangat besar, terutama dengan meningkatnya permintaan pasar terhadap makanan tradisional Indonesia dalam kemasan yang lebih tahan lama dan mudah didistribusikan ke berbagai daerah.
“Inovasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk produksi makanan siap saji dalam kemasan sebagai cadangan pangan saat terjadi bencana,” jelasnya.





