Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) atau BTN belum memiliki rencana melakukan buyback atau pembelian kembali saham. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan perseroan harus menjaga porsi kepemilikan saham publik di level minimal 40% agar tetap memperoleh insentif pajak korporasi sekitar 5%.
"Jadi bank kayak kami itu mesti hati-hati ngambil saham dari publik untuk dijadikan saham treasury stocks," kata Nixon kepada wartawan di Kantor BTN, Jakarta Pusat, dikutip pada Minggu (15/3/2026).
Nixon menambahkan, langkah yang dapat dilakukan perseroan adalah dengan membeli saham yang ada publik untuk langsung dibagikan sebagai bonus tahunan.
“Paling itu. Jadi bonusnya kami convert jadi saham. Karyawan senang juga kok. Bisa dikasih dalam bentuk rupiah, bisa dikasih dalam bentuk saham,” jelasnya.
Dalam sebulan terakhir, saham BBTN mengalami koreksi 7,35% atau 100 poin. Kendati begitu dalam tiga bulan terakhir, saham perseroan menguat 15,60% atau 170 poin dan secara tahun berjalan (year to date/YtD) meningkat 7,23% atau 85 poin ke level Rp1.260 per saham.
Adapun perseroan juga membuka peluang menaikkan porsi dividen dari laba bersih tahun buku 2025 hingga 30%, dari tahun sebelumnya 25%. Nixon mengatakan, usulan kenaikan dividen tersebut dilakukan perseroan untuk mengelola sekaligus meningkatkan return on equity (ROE) BTN.
Baca Juga
- Respons Positif Tambahan Dana Purbaya, Ini Rencana Bos BTN (BBTN)
- BTN (BBTN) Cetak Laba Bersih Rp503,23 Miliar per Februari 2026
- BTN (BBTN) Tak Jamin Tambahan Likuiditas Ungkit Performa Kredit Perbankan
Perseroan pun menargetkan ROE pada tahun ini naik sekitar 2% dibandingkan tahun sebelumnya. “Dividen kami rencana, kami akan usulkan 30%, naik dari tahun lalu,” ujar Nixon.
Kinerja Keuangan BTN 2025
Sepanjang 2025, perseroan membukukan laba bersih tahun berjalan konsolidasian sebesar Rp3,5 triliun meningkat 16,4% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp3,0 triliun.
Pencapaian laba bersih BTN didorong oleh pendapatan bunga yang naik 23,0% YoY menjadi Rp36,3 triliun hingga akhir 2025, dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp29,6 triliun.
Di sisi lain, peningkatan di beban bunga sangat minim yaitu 0,4% YoY menjadi Rp17,9 triliun per akhir 2025 dari tahun sebelumnya yakni Rp17,9 triliun. Dari pencapaian itu, BTN membukukan pendapatan bunga bersih yang naik 57,5% YoY menjadi Rp18,4 triliun pada akhir 2025 dibandingkan Rp11,7 triliun pada 2024.
Dari sisi fungsi intermediasi, perseroan mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasian sebesar 11,9% YoY menjadi Rp400,6 triliun, dari Rp358,9 triliun pada 2024.
Mayoritas kredit BTN disalurkan ke sektor perumahan, dengan penyaluran kreditnya mencapai Rp328,4 triliun hingga Desember 2025. Realisasi itu meningkat 7,5% YoY dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp305,6 triliun.
Pada saat yang sama, perolehan dana pihak ketiga (DPK) konsolidasian mencapai Rp437,4 triliun pada akhir tahun lalu, tumbuh 14,6% YoY dibandingkan 2024 yang sebesar Rp381,7 triliun.




