Iran Minta Negara Lewat Selat Hormuz Bayar Pakai Mata Uang China

suara.com
3 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Iran berencana mewajibkan penggunaan Yuan China untuk kapal tanker yang melewati Selat Hormuz.

  • Harga minyak dunia melonjak drastis hingga US$100 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah.

  • Stok rudal pencegat Israel dilaporkan menipis kritis di tengah gempuran misil klaster Iran.

Suara.com - Situasi keamanan di jalur perairan paling strategis dunia kini memasuki babak baru yang penuh dengan ketidakpastian ekonomi. Pemerintah Iran dikabarkan tengah menimbang kebijakan khusus terkait lalu lintas kapal tanker di kawasan Selat Hormuz.

Terdapat indikasi kuat bahwa Iran hanya akan memberikan izin melintas bagi kapal pengangkut minyak dengan syarat tertentu.

Syarat utama yang mencuat adalah keharusan menggunakan mata uang China, Yuan dalam setiap transaksi komoditas tersebut.

Kabar mengenai kebijakan restriktif ini pertama kali diembuskan oleh seorang pejabat Iran yang identitasnya dirahasiakan.

Hingga saat ini, pihak media internasional masih terus berupaya melakukan verifikasi mendalam atas informasi sensitif ini.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari skema besar Teheran dalam mengendalikan arus logistik energi di tengah konflik.

Sebagaimana diketahui, mayoritas transaksi minyak mentah di pasar global secara tradisional masih sangat bergantung pada dolar AS.

Namun, sanksi ekonomi telah mendorong negara seperti Rusia untuk mulai beralih menggunakan mata uang Rubel maupun Yuan.

Penutupan akses Selat Hormuz oleh militer Iran menjadi faktor utama yang memicu guncangan hebat pada harga energi dunia.

Baca Juga: Tanda-tanda Perang AS - Israel vs Iran Berakhir versi Donald Trump

Ketegangan di wilayah Teluk secara otomatis membuat grafik harga minyak mentah dunia bergerak sangat fluktuatif dan sulit diprediksi.

Pada awal pekan lalu, harga minyak jenis Brent sempat meroket hingga menembus angka 119,50 dolar AS untuk setiap barelnya.

Nilai tersebut tercatat sebagai rekor tertinggi yang pernah dicapai sejak periode pertengahan tahun 2022 yang lalu.

Harga sempat mengalami koreksi sesaat setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan mengenai potensi berakhirnya konflik bersenjata tersebut.

Akan tetapi, pagi ini kontrak minyak Brent kembali melambung sebesar 9,28 persen hingga menyentuh level 100,52 dolar AS per barel.

Kenaikan harga ini dipicu oleh intensitas serangan Iran terhadap berbagai fasilitas energi dan jalur transportasi di Timur Tengah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pesan Kapolri ke Pemudik: Tolong Hati-hati di Jalan, Jangan Paksakan Diri untuk Cepat
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Jadwal Operasional BCA, BRI, Bank Mandiri, BNI, hingga CIMB Niaga Selama Libur Nyepi & Lebaran 2026
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Kurangi Kepadatan Arus Mudik, Menhub Minta Masyarakat Manfaatkan WFA
• 35 menit lalurepublika.co.id
thumb
Bupati Cilacap Peras Rp610 Juta untuk Bagi-bagi THR
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Purbaya Klaim Suntikan Rp200 Triliun ke Perbankan Berbuah Manis
• 23 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.