JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivitas di Stasiun Pasar Senen mulai meningkat menjelang Lebaran seiring banyaknya masyarakat yang bersiap melakukan perjalanan mudik.
Bagi para porter, periode menjelang Hari Raya menjadi momen paling sibuk dalam setahun.
Saat jumlah penumpang melonjak, penghasilan mereka bahkan dapat meningkat hingga ratusan ribu rupiah dalam sehari.
“Kalau lagi ramai banget seperti jelang Lebaran, sehari bisa sampai Rp500.000,” kata Asman (44), porter di Stasiun Pasar Senen, Kamis (12/3/2026).
Menurut Asman, peningkatan pendapatan terjadi karena semakin banyak penumpang yang menggunakan jasa porter untuk membantu membawa barang.
Sebagian penumpang kini memesan layanan tersebut melalui aplikasi e-porter yang tersedia di stasiun.
Melalui aplikasi itu, tarif layanan telah ditentukan secara transparan sekitar Rp38.000 untuk satu kali bantuan membawa barang dari pintu masuk menuju ruang tunggu atau peron.
“Kalau lewat aplikasi sudah ada tarifnya,” ujar dia.
Namun tidak sedikit penumpang yang memesan jasa porter secara langsung di lokasi. Dalam kondisi tertentu, penumpang bahkan memberikan bayaran lebih dari tarif standar.
“Kalau pesan langsung kadang ada yang ngasih lebih,” kata Asman.
Tambahan uang tersebut biasanya diberikan oleh penumpang yang membawa banyak barang atau merasa terbantu dengan layanan porter.
Dalam kondisi normal, Asman mengaku biasanya melayani sekitar tiga hingga lima penumpang setiap hari. Namun menjelang musim mudik, jumlah pelanggan bisa meningkat cukup signifikan.
“Kalau lagi ramai bisa sampai belasan orang,” ujarnya.
Dengan tarif rata-rata sekitar Rp38.000 hingga Rp40.000 per layanan, penghasilan harian porter dapat mencapai ratusan ribu rupiah saat stasiun dipadati penumpang.
Baca juga: Kisah Porter Stasiun Pasar Senen: Pulang Mudik Sehari, Kembali Cari Rezeki
Aktivitas Porter di Tengah Ramainya StasiunPorter lain di Stasiun Pasar Senen, Slamet (38), mengatakan aktivitas kerja memang meningkat menjelang musim mudik Lebaran.
Di ruang keberangkatan stasiun, ia terlihat memanggul kardus berisi air mineral sambil menarik koper milik seorang penumpang.
Slamet mengaku telah bekerja sebagai porter selama hampir lima tahun. Ia menjelaskan para porter bekerja dengan sistem jadwal bergilir yang diatur oleh koordinator porter.
“Biasanya ada jadwal giliran. Kami kerja sesuai pembagian dari koordinator,” kata Slamet.
Dengan sistem tersebut, porter tetap tersedia di stasiun sepanjang hari untuk membantu penumpang yang membutuhkan bantuan membawa barang.
Saat arus penumpang meningkat, para porter harus bergerak lebih cepat agar dapat melayani lebih banyak pelanggan.
“Kadang ada yang bawa kardus besar sekali. Beratnya bisa belasan kilo,” ujar Slamet.
Meski demikian, ia mengaku suasana menjelang Lebaran selalu menghadirkan nuansa berbeda bagi para porter karena ramainya penumpang yang hendak pulang ke kampung halaman.
Baca juga: Sopir Truk Sebut Macet Parah di Tanjung Priok Bukan karena Lonjakan Aktivitas Pelabuhan





