Amerika Serikat, VIVA –Ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat - Israel dengan Iran sudah memasuki pekan ketiga. Namun nampaknya hubungan antara presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu nampaknya tak berjalan mulus.
Disebut-sebut dirinya pecah Kongsi lantaran perbedaan pandangan terkait perlawanan terhadap Iran. Kok bisa? Mari kita bahas satu persatu.
Melansir laman middleeastmonitor, Minggu 15 Maret 2026, sebuah surat kabar mengutip sumber yang menyebutkan bahwa perubahan rezim di Tehran kecil kemungkinan terjadi dalam waktu dekat. Alasannya hal itu hanya bisa terjadi jika adanya intervensi militer darat atau gelombang protes besar di dalam negeri. Dua hal ini dinilai tidak mungkin terjadi saat ini.
Sumber tersebut juga menyoroti perbedaan besar dalam cara Washington dan Tel Aviv menilai perang yang sedang berlangsung. Pemerintahan Amerika Serikat lebih mengkhawatirkan dampak konflik terhadap harga minyak dan perekonomian global. Sementara itu, Israel mengklaim operasi militernya telah menghasilkan kemajuan yang signifikan.
Sehari sebelumnya, surat kabar Politico melaporkan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump tidak melakukan penilaian menyeluruh terhadap konsekuensi konflik dengan Iran ketika memutuskan untuk memulai konfrontasi tersebut. Konflik ini kemudian berdampak langsung pada kenaikan harga minyak.
Dalam laporan itu, sejumlah pakar ekonomi mengatakan bahwa pemerintahan Trump meremehkan dampak dari konfrontasi tersebut. Akibatnya, harga bensin naik sekitar 60 sen per galon dalam waktu kurang dari dua minggu, meskipun produksi minyak Amerika Serikat sedang berada pada tingkat tertinggi.
Kenaikan harga ini dinilai bertentangan dengan janji Trump tentang era keemasan kemakmuran, karena justru memicu peningkatan inflasi.
Menurut Politico, Trump kemudian berusaha menenangkan kekhawatiran pasar dengan memerintahkan pelepasan 172 juta barel minyak dari cadangan strategis minyak Amerika Serikat, setelah pernyataan Menteri Energi Chris Wright sebelumnya gagal meyakinkan para investor.





