Baru-baru ini saya menonton film karya Alexander Payne, The Holdovers. Jujur, buat saya ini bukan sekadar film, melainkan sebuah cermin untuk berefleksi. Film ini relate dengan saya yang seorang pendidik karena kejujurannya yang menyakitkan namun indah tentang apa artinya mengajar (dan diajar).
Film ini menceritakan tentang seorang guru sejarah yang kaku (Paul Hunham), seorang koki sekolah yang sedang berduka (Mary Lamb), dan seorang siswa bermasalah (Angus Tully) yang terpaksa tinggal bersama di satu asrama sekolah selama libur Natal. Mereka adalah para holdovers—orang-orang yang 'tertinggal'. Apa yang terjadi kemudian di film ini bukanlah terobosan akademis yang ajaib, melainkan terobosan kemanusiaan.
Pelajaran paling mendalam bagi saya, adalah melihat bagaimana hubungan antara guru dan siswa berkembang. Hubungan yang awalnya toksik dan hierarkis perlahan berubah menjadi ikatan saling percaya yang mendalam.
Berubahnya hubungan tersebut tidak terjadi di ruang kelas, tidak terjadi saat Hunham memberikan pelajaran tentang Sejarah Romawi Kuno. Hal itu malah terjadi di meja makan, di depan TV, dan saat perjalanan darat ke Boston (yang dalam konsep Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara sering disebut sebagai 'ruang ketiga'). Hubungan itu tumbuh karena mereka 'terpaksa' hidup bersama, melucuti atribut 'guru' dan 'siswa', hingga yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang tidak sempurna.
Merefleksikan hal ini, saya menyadari satu kebenaran pahit tentang sistem pendidikan kita: koneksi atau hubungan, dalam banyak kasus, membutuhkan kondisi yang memungkinkan (enabling conditions)—khususnya waktu dan ruang—yang jarang tersedia di sekolah formal kita.
Dalam kehidupan profesional, saya menjalani dua dunia yang berbeda. Pagi hari, saya adalah guru di sekolah formal. Siang hingga sore, saya menjadi tutor/mentor di sebuah program berbasis komunitas NGO. Perbedaan kedua lingkungan ini memvalidasi apa yang diperlihatkan dalam The Holdovers.
Di sekolah formal, kita biasa terikat struktur. Dengan rasio siswa yang besar dan beban administrasi yang berat, hubungan sering kali menjadi transaksional. Guru menyampaikan kurikulum; siswa mengonsumsinya. Jarang ada ruang untuk hal personal, apalagi kerentanan seperti yang ditunjukkan dalam film.
Namun, di NGO tempat saya menjadi tutor sekaligus mentor, strukturnya terbalik. Jumlah siswa sedikit. Tekanan kurikulum digantikan oleh prioritas kehadiran (presence). Di sinilah saya bisa menciptakan 'ruang ketiga' itu.
Saya sering duduk bersama siswa, bermain Uno, Ludo, atau saling melempar teka-teki receh setelah kelas usai. Bagi orang luar, ini mungkin terlihat membuang-buang waktu. "Mengapa gurunya tidak mengerjakan hal lain yang lebih ada faedahnya?" Tapi bagi siswa, ini adalah segalanya.
Ketika seorang guru menanggalkan otoritasnya untuk bermain melempar dadu atau sekadar tertawa karena kalah main kartu, hierarki itu runtuh. Siswa melihat bahwa guru rela menyisihkan waktu luangnya untuk mereka. Dan di mata seorang remaja, waktu ibarat mata uang kepedulian yang paling jujur.
Investasi waktu ini menciptakan apa yang mungkin bisa disebut sebagai "tabungan emosional". Saat bermain kartu dengan siswa, itu sama artinya dengan saya sedang menabung kepercayaan mereka. Kelak, saat saya kembali pada peran sebagai pengajar, saya bisa melakukan semacam withdrawal. Karena mereka sudah percaya pada saya, besar kemungkinan mereka akan menjadi lebih penurut dan antusias. Mereka mau 'memaklumi' kebosanan pelajaran yang sulit, bukan karena mereka tiba-tiba menyukai materi itu, tetapi lebih karena mereka menghargai koneksi yang telah kami bangun.
The Holdovers juga mengajarkan bahwa tidak perlu menjadi guru yang sempurna untuk 'menyelamatkan' seorang siswa. Hunham adalah sosok sinis, suka minum alkohol, dan gagal dalam karirnya (tentu bukan berarti semua guru perlu menjadi sama dengannya). Di sisi lain, Tully adalah remaja pemarah. Namun, 'kepingan-kepingan rusak' dari diri mereka justru saling melengkapi satu sama lain.
Dalam pengalaman saya, siswa 'bermasalah' cenderung memiliki radar paling kuat terhadap ketulusan. Mereka tidak butuh superhero; mereka butuh manusia biasa yang tulus hadir untuk mereka. Ketika terbuka tentang keterbatasan saya sebagai seorang guru, atau sekadar duduk menemani mereka dalam kebosanan, dinamika berubah dari "mengoreksi" menjadi "terkoneksi".
Sayangnya, banyak siswa hari ini (mungkin) kehilangan koneksi semacam itu di rumah. Orang tua, yang lelah oleh tekanan hidup, sering kali secara tidak sadar sudah mengubah rumah menjadi ruang kelas kedua—menuntut nilai dan kepatuhan—sehingga menghilangkan 'ruang ketiga' di mana anak bisa sekadar menjadi anak. Guru, pada akhirnya, sering menjadi semacam pertahanan terakhir melawan kesepian seorang siswa.
Realisme Struktural
Secara realistis, tidak mungkin sepenuhnya mereplikasi keintiman tutor-mentorat di NGO ke dalam ruang kelas formal yang padat. Struktur menentukan kultur. Kelas dengan 30 siswa memungkinkan instruksi massal, tetapi jarang memungkinkan pendampingan yang mendalam.
Namun, pesannya tetap relevan. The Holdovers mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang tertulis di papan. Sebaliknya, pendidikan sejati kerap terjadi di pinggiran (in the margins)—dalam candaan receh, makan bersama, atau permainan kartu yang sederhana.
Ketika membicarakan perbaikan pendidikan, kita sering bicara tentang kurikulum dan teknologi. Namun, kita mungkin perlu bicara lebih banyak tentang rasio dan ruang. Kita perlu menciptakan lingkungan di mana para holdovers—siswa yang kesepian dan guru yang lelah—bisa saling menemukan, menurunkan pertahanan, dan menjadi manusia kembali. ●





