Perang Timur Tengah: Perspektif Intelijen

jpnn.com
13 jam lalu
Cover Berita

jakarta.jpnn.com - Oleh: Aji Jaya Bintara, SE, Msc, Phd (candidate)

Praktisi Intelijen dan Bisnis, Mahasiswa Doktoral Universitas Pertahanan 

BACA JUGA: PP HIMMAH Ajak Seluruh Masyarakat Dukung Penuh Presiden Probowo Serukan Perdamaian Dunia

Perang AS-Israel vs Iran telah memasuki minggu ketiga. Operasi Epic Fury berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Iran membalas melalui operasi True Promise 4.

Transisi kepemimpinan terjadi, Majelis Ahli menunjuk putra Ali, Motjaba sebagai suksesi. Motjaba, bukan figur sembarangan.

BACA JUGA: Konflik AS-Israel dan Iran, PP HIMMAH Minta Pemerintah Kencangkan Hilirisasi Minyak Mentah

Dia adalah pembisik strategis Ali Khamenei, dekat dengan IRGC (militer Iran), dan lebih radikal dalam konteks perang melawan AS-Israel. 

Beyond Missile War

BACA JUGA: Ketua Umum KB PII: Trump dan Netanyahu Bandit Peradaban Dunia

Dalam teori intelijen, Ancaman (Threat) adalah proksi dari Niat (Intention) + Kemampuan (Capability) + Keadaan (Circumtances).

Serangan pertama, Mossad (agensi Israel) dan CIA (agensi AS) berhasil melumpuhkan Iran. Lebih dari ribuan misil diluncurkan, utamanya serangan pagi hari yang menewaskan Imam Khamenei dan keluarga, serta beberapa petinggi militer Iran.

Pasca operasi itu, Presiden Trump dan PM Netanyahu mengklaim berhasil melumpuhkan kemampuan dan berusaha menciptakan situasi kekacauan (melalui provokasi gen-Z) yang bermuara transisi rezim.

Faktanya, Iran lebih dari sekedar negara. Klaim itu terbantahkan oleh realitas dari 90 juta rakyat Iran, alih-alih, bersuara tentang demokratisasi, menjadi ucapan “Go-To Hell America.” 

Mossad dan CIA salah kalkulasi. Bangsa Iran, memiliki falsafah dan prinsip kuat menentang hegemoni Barat. Niat (intention) mereka sebagai bangsa telah mengakar, bahkan hingga ke anak- anak usia 10 tahun.

Sejarah panjang bangsa Iran, sebagai peradaban bangsa tertua dunia. Bangsa Persia sebagai salah satu ras terkuat dan pelopor peradaban modern dunia. Iran kembali.

Perang masih jauh dari kata selesai. Kaderisasi, Doktrinasi, dan Simbolisasi yang mengakar lebih dari 3 (tiga) dekade menjadi faktor penting kemenangan Iran dalam perang timur tengah ini. 

Iran sadar perang ini tentang minyak dan jalur hormuz, maka pembalasan (retaliation) tertuju ke beberapa sendi strategis, tidak hanya Tel Aviv dan Haifa.

Iran menyerang sekutu Amerika dengan drone murah tapi presisi dan efektif. Plus teror psikis di jalur hormuz, Iran berhasil menekan negara-negara yang berkepentingan di sana dan menciptakan strategic advantage.

Kontrol kedaulatan negara dan kontrol jalur perdagangan tetap di tangan Iran. 

Peran strategis VEVAK (agen intelijen Iran) dalam pola agresi balasan Iran layak diapresiasi.

Ada kemungkinan besar, VEVAK dibantu FSB (agensi Russia) dan MSS (agensi China) dalam mengindentifikasi sasaran-sasaran strategis yang ditujukan melumpuhkan kekuataan Amerika dan Israel serta menciptakan skema kekacauan (chaotic scheme) masif di Timur Tengah.

Iran menunggu perang darat, dimana Trump dan Netanyahu menghindar karena itu sama saja ‘agresi bunuh diri’. 

Perang ini lebih dari sekedar perang misil, ini perang multidimensi, perang intelijen, perang peradaban, perang ideologis, serta kemungkinan perang proksi, dimana Rusia, China, dan Korea Utara dalam posisi ‘stand by’ membantu Iran.

Ketika durasi perang semakin panjang (Iran tidak takluk). Opsi Amerika-Israel hanya tersisa dua.

Meningkatkan agresi artinya World War III dan biaya perang sangat besar, atau menghentikan agresi artinya kalah perang. 

Masa depan Perdamaian Dunia

Kegagalan intelijen Amerika dan Israel ini adalah pelajaran berharga dunia intelijen. Kegagalan Mossad-CIA mengungguli VEVAK adalah tambahan cerita sejarah kemenangan peradaban bangsa Persia Iran.

Cerita sebuah bangsa berkarakter, tidak mati karena embargo ekonomi, politik, sosial dari dunia. Cerita bangsa kuat ideologis, filosofis, dan metodis.

Masa kejayaan Iran pasca perang adalah satu hal, mengembalikan kepercayaan dunia bahwa Iran adalah negara Islam cinta damai adalah hal lain.

Bangsa Iran menegaskan kepada dunia bahwa menjaga perdamaian dunia bukan berarti harus menggadaikan kedaulatan bangsa.

Tapi melalui sikap toleran dan persaudaran, sebagai dasar prinsip bangsa Persia kuno. 

Dalam konteks nuklir, kepemimpinan putra Khamenei adalah variabel analisis baru dunia intelijen, terutama terkait sikap dan kebijakannya atas program nuklir Iran.

Trajectory program nuklir Iran menjadi subjek utama analisis intelijen dan keamanan Timur Tengah dan Dunia kini. Ada adagium “Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya”.

Masa Ali berakhir, kini Motjaba menjadi simbol baru Negara Islam Iran. Kedepan, perdamaian dunia relatif membentuk keseimbangan baru, dengan Iran sebagai salah satu pendulum utama. (Jos/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ragil


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hari Matematika Internasional, Saatnya Menghapus Stigma Pelajaran Menakutkan
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Arus Kendaraan di Jalur Nagreg–Garut Masih Normal, Puncak Diprediksi 18 Maret
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
KAI Daop 4 Ingatkan Ketentuan Bagasi Maksimal  Pemudik 20 Kg
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Konversi Utang, CBRE Rights Issue hingga Rp1,9 Triliun
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Teror terhadap Andrie Yunus Terindikasi Terorganisir, Yusril Desak Polisi Usut Tuntas
• 19 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.